— JAKARTA – Pasar tokenisasi aset, atau dikenal sebagai Real World Assets (RWA), di Indonesia diproyeksikan akan mencapai nilai fantastis sebesar US$ 88 miliar pada tahun 2030. Proyeksi pertumbuhan pesat ini didorong oleh semakin meluasnya adopsi teknologi blockchain dan meningkatnya minat investor domestik terhadap aset-aset global.

Dalam tren yang berkembang ini, produk Tokenized US Stocks atau saham Amerika Serikat yang ditokenisasi, telah menjadi instrumen investasi yang sangat diminati oleh investor Indonesia. Instrumen ini dianggap sebagai sarana efektif untuk melakukan diversifikasi portofolio investasi.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Tiger Research memprediksi bahwa pasar tokenisasi aset di Indonesia akan mengalami pertumbuhan dengan compound annual growth rate (CAGR) mencapai 31,7% hingga tahun 2030. Pertumbuhan signifikan ini ditopang oleh ekosistem digital Indonesia yang semakin matang, yang dinilai mampu mempercepat proses adopsi aset berbasis blockchain.

Tiger Research juga mencatat adanya peningkatan minat yang kuat dari investor Indonesia terhadap saham-saham Amerika Serikat yang telah ditokenisasi. Hal ini karena tokenisasi memberikan akses yang lebih mudah bagi investor untuk berinvestasi pada perusahaan-perusahaan global terkemuka, memanfaatkan kemajuan teknologi blockchain.

Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menyatakan bahwa tren ini mencerminkan keterbukaan investor Indonesia yang semakin besar terhadap diversifikasi investasi ke aset-aset global. “Tokenisasi membuka akses yang lebih mudah bagi investor Indonesia untuk memiliki eksposur ke perusahaan-perusahaan global. Kami melihat minat terhadap aset ini terus meningkat seiring berkembangnya ekosistem aset digital,” ujar Ryan dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (21/7/2026).

Lebih lanjut, Ryan menjelaskan bahwa semakin beragamnya pilihan aset tokenisasi menjadi salah satu faktor kunci yang mendorong pertumbuhan pasar ini. Berdasarkan analisis Tiger Research dan hasil benchmark industri yang dilakukan oleh Bittime, platform yang menawarkan pilihan saham Amerika Serikat yang lebih lengkap cenderung lebih mampu memenuhi kebutuhan investor dalam membangun portofolio global yang terdiversifikasi.

Saat ini, Bittime menyediakan berbagai pilihan Tokenized US Stocks. Portofolio ini mencakup saham-saham perusahaan teknologi global ternama seperti NVIDIA, Microsoft, Apple, Amazon, Alphabet (induk perusahaan Google), Meta, dan Tesla. Selain itu, platform ini juga menawarkan sejumlah exchange traded funds (ETF) yang berfokus pada sektor teknologi.

Selain menawarkan pilihan aset yang luas, Bittime juga memperkenalkan fitur Flexible Staking untuk Tokenized US Stocks, yang menawarkan potensi imbal hasil menarik hingga 7% annual percentage rate (APR). Fitur ini diklaim memungkinkan investor untuk memperoleh tambahan imbal hasil tanpa mengurangi fleksibilitas dalam mengelola portofolio investasi mereka.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman investasi yang lebih relevan melalui akses ke aset global yang disertai fitur bernilai tambah sesuai kebutuhan investor Indonesia,” tambah Ryan.

Dominasi Investasi Teknologi dan AI

Peningkatan minat terhadap Tokenized US Stocks juga terekam jelas dalam data internal perusahaan. Dalam kurun waktu 48 jam setelah peluncuran fitur Flexible Earn, kepemilikan Tokenized US Stocks di platform Bittime dilaporkan melonjak sebesar 106%.

Data tersebut menunjukkan bahwa sekitar 96% dari dana baru yang masuk dialokasikan secara spesifik ke saham-saham yang berkaitan dengan tema kecerdasan buatan (AI). Saham-saham yang paling diminati termasuk NVIDIA, Meta, dan Microsoft. Selain itu, hampir separuh dari total kepemilikan Tokenized US Stocks langsung ditempatkan pada fitur Earn.

Sementara itu, lima Tokenized US Stocks dengan kepemilikan terbesar di Bittime pada pekan lalu meliputi SpaceX (SPCXX), NVIDIA (NVDAX), Tesla (TSLAX), MicroStrategy (MSTRX), dan Apple (AAPLX).

Menurut Ryan, tren ini mengindikasikan bahwa investor Indonesia mulai aktif membangun portofolio global mereka. Investasi difokuskan pada perusahaan-perusahaan yang dipandang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang, khususnya di sektor teknologi, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, serta aset-aset yang terkait dengan ekosistem aset digital.

Ia menilai prospek pasar tokenisasi aset di Indonesia masih sangat cerah. Hal ini terutama seiring dengan meningkatnya kebutuhan investor akan diversifikasi investasi dan dukungan regulasi yang semakin kuat terhadap industri aset keuangan digital. “Potensi pasar tokenisasi aset yang terus berkembang menunjukkan investor Indonesia akan memiliki semakin banyak pilihan untuk mengakses aset global. Kami melihat Tokenized US Stocks menjadi salah satu segmen yang berpotensi tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan diversifikasi investasi dan dukungan regulasi yang semakin kuat,” pungkas Ryan.