— Pemerintah China secara agresif melakukan intervensi pasar modal untuk meredam gelombang aksi jual saham sektor teknologi. Langkah terkoordinasi ini melibatkan regulator, investor yang didukung negara (state-backed), perusahaan asuransi, hingga manajer investasi dengan tujuan memulihkan kepercayaan pasar.

Intervensi ini bertujuan mencegah krisis kepercayaan pada saham kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan semikonduktor meluas ke seluruh pasar saham. Kekhawatiran sebelumnya muncul akibat valuasi saham cip yang tinggi dan adanya pengalihan dana menyambut rencana pencatatan saham perdana (IPO) produsen cip memori, CXMT Corp.

Menjaga stabilitas saham AI dalam jangka panjang sangat krusial bagi China untuk membantu perusahaan domestik mengumpulkan modal guna bersaing dengan Amerika Serikat.

Dukungan pemerintah terlihat jelas pada Senin (20/7/2026) ketika dana reksa dana ChinaAMC Star 50 ETF, yang melacak indeks saham cip terbesar, mencatat lonjakan dana masuk rekor sebesar 13,8 miliar yuan atau sekitar Rp 36,4 triliun. Pelaku pasar meyakini lonjakan dana berskala besar ini berasal dari modal negara atau ‘national team’.

Dampaknya langsung terasa, Indeks Star 50 melonjak 11% pada Selasa (21/7/2026), mencatat kenaikan harian tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Pekan sebelumnya, indeks ini sempat anjlok 17% akibat aksi pelepasan posisi leverage secara masif.

“Para investor AI sebelumnya terus mencari sinyal apakah pengambil kebijakan masih bersedia mendukung perdagangan sektor ini. Aksi beli ‘tim nasional’ pada Star 50 ETF memberikan sinyal yang tepat, memicu kembalinya arus modal setelah pasar mengartikan langkah tersebut sebagai bentuk dukungan resmi,” ujar Zhuang Jiapeng, Manajer Investasi di Shenzhen JM Capital Co.

Dukungan Luas dari BUMN Asuransi hingga Sekuritas

Dukungan juga mengalir dari raksasa asuransi milik negara. Setidaknya lima perusahaan asuransi besar berkomitmen meningkatkan porsi investasi mereka. China Life Insurance Co. menyatakan unit usahanya telah menyuntikkan lebih dari 10 miliar yuan ke pasar saham dan berjanji menambah kepemilikan di sektor-sektor pertumbuhan baru. Komitmen serupa juga disampaikan oleh The People’s Insurance Company (Group) of China dan Ping An Insurance Group Co.

Dukungan ini menandai pergeseran strategi pemerintah, yang sebelumnya berfokus pada saham-saham unggulan (blue chip), kini beralih ke saham teknologi.

Respons positif juga menjangkiti indeks saham China lainnya pada Selasa. Indeks ChiNext yang berfokus pada saham teknologi melonjak 7,1%, sementara indeks acuan CSI 300 ditutup menguat 3,1%.

Manajer investasi berpelat merah seperti Bosera Fund Management mengumumkan pihaknya akan menyuntikkan dana internal sebesar 50 juta yuan ke produk ekuitas yang dikelolanya. Perusahaan sekuritas GF Securities juga menaikkan kuota pendanaan marjin (margin financing) sebesar 90 miliar yuan untuk memberikan likuiditas tambahan bagi investor.

Komisi Regulator Sekuritas China (CSRC) telah menggelar pertemuan dengan para investor untuk menjaring aspirasi demi menjaga stabilitas pasar modal, mencegah risiko krisis, dan meningkatkan perlindungan investor.

Namun, beberapa pelaku pasar menilai intervensi ini baru sebatas menahan laju penurunan harga.

“Tim nasional jelas bertujuan memperlambat laju kerugian dan menahan kejatuhan saham teknologi. Namun pada akhirnya, solusi riil adalah mengembalikan valuasi pasar ke tingkat yang lebih rasional,” kata Manajer Investasi di Shanghai Zhuozhu Investment Management Co., Wang Zhuo.

Gelombang aksi jual pada sektor teknologi China dipicu kekhawatiran investor terhadap valuasi saham semikonduktor yang dinilai terlalu tinggi (overvalued), ditambah aksi pelepasan posisi leverage tercepat sejak krisis pasar modal China 2015-2016. Ketegangan persaingan teknologi antara AS dan China juga mendorong China untuk mempertahankan kekuatan kapitalisasi pasar domestiknya.

Istilah ‘National Team’ atau ‘Tim Nasional’ merujuk pada kelompok lembaga keuangan negara, dana pensiun, dan dana investasi berpelat merah yang kerap dikerahkan Beijing untuk membeli ETF dan saham saat pasar mengalami gejolak ekstrem. Langkah ini menjadi instrumen utama pemerintah China dalam menjaga stabilitas finansial dan melindungi sektor teknologi strategis.