— JAKARTA – BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyoroti sektor komoditas sebagai peluang investasi yang menjanjikan. Dalam catatannya pada Selasa, 28 Juli 2026, analis BRIDS menilai prospek kinerja yang solid, valuasi atraktif, dan katalis positif berpotensi mendorong pertumbuhan sektor ini.

BRIDS telah menetapkan enam saham komoditas sebagai pilihan teratas. Keenam saham tersebut adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Berikut adalah target harga yang ditetapkan oleh BRIDS untuk masing-masing saham:

  • ANTM: Rp 4.900
  • INCO: Rp 8.000
  • TINS: Rp 4.800
  • AMMN: Rp 6.000
  • BRMS: Rp 1.100
  • ITMG: Rp 34.000

Sebelumnya, BRIDS telah mengemukakan pandangannya terhadap saham batu bara. Meskipun pasar masih memperhitungkan ketidakpastian kebijakan, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tetap menjadi favorit analis.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta, memprediksi harga batu bara akan kembali normal pada paruh kedua 2026, namun tidak akan mengalami penurunan drastis. Penurunan harga diperkirakan tertahan oleh percepatan pemenuhan kewajiban pasar domestik (DMO) dan preferensi pembeli untuk menjaga tingkat persediaan.

Data mingguan terbaru menunjukkan Indonesian Coal Index 3 (ICI3) berada di US$ 84 per ton dan ICI4 sebesar US$ 64,6 per ton. Kedua indeks ini telah mencapai puncaknya pada Juni 2026 dan mengalami penurunan moderat belakangan ini. Keseimbangan pasokan dan permintaan selama lima bulan pertama 2026 tercatat lebih ketat.

“Revisi naik dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) berpotensi membuka tambahan pasokan pada semester II-2026,” tulis Erindra dan Kafi dalam risetnya, Rabu, 22 Juli 2026. Persetujuan revisi RKAB, yang diajukan awal Juli dan diperkirakan terbit dalam 1-1,5 bulan, menjadi variabel terpenting.

BRIDS memperkirakan pendapatan perusahaan batu bara akan meningkat secara kuartalan (quarter on quarter/qoq) pada kuartal II-2026. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan produksi, volume penjualan, dan harga ekspor. Namun, kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara kemungkinan tertinggal dibandingkan harga indeks acuan karena porsi DMO yang lebih besar.

Peningkatan biaya, terutama kenaikan harga high speed diesel (HSD) domestik sebesar 35-40% qoq, diperkirakan akan mengimbangi manfaat dari pertumbuhan pendapatan. HSD merupakan bahan bakar vital untuk operasional pertambangan.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan pandangan overweight untuk sektor batu bara, namun pandangan taktis 3 bulannya diturunkan menjadi netral. Sektor ini diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) 6,1 kali, mengindikasikan pasar masih memperhitungkan ketidakpastian kebijakan.

Untuk jangka pendek, kenaikan harga saham sektor batu bara diperkirakan terbatas akibat normalisasi harga komoditas dan antisipasi kinerja kuartal II-2026. “Kami tetap menyukai emiten yang memiliki katalis spesifik perusahaan, dukungan dividen, dan ruang aman dari sisi valuasi,” ungkap Erindra.

Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) ditetapkan sebagai pilihan utama di sektor batu bara dengan rekomendasi beli. Target harga saham AADI adalah Rp 12.400 dan ITMG sebesar Rp 34.000. Titik masuk yang menarik berpotensi muncul setelah publikasi kinerja kuartal II-2026, bergantung pada persetujuan revisi RKAB, meredanya risiko implementasi DSI, dan pemulihan volume produksi di semester II-2026.