Detak.news — Saham-saham di sektor minyak dan gas (migas) kembali menjadi sorotan investor menyusul memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz. Ketegangan geopolitik ini telah memicu kenaikan signifikan pada harga minyak dunia, mendekati level US$100 per barel. Lonjakan harga komoditas ini menjadi katalis positif, khususnya bagi perusahaan hulu migas yang pergerakannya sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, sejumlah emiten migas mencatat penguatan dalam sepekan terakhir hingga Senin (20/7/2026). PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat 7,17%, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melonjak 13,55%, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) naik 6,42%, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) bertambah 4,48%, dan PT Elnusa Tbk (ELSA) tercatat menguat 1,55%.
Kenaikan harga minyak Brent tercatat sebesar 2,51% menjadi US$90,31 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,25% ke level US$84,35 per barel. Reli ini dipicu oleh eskalasi konflik AS-Iran, termasuk serangan militer yang berlanjut, blokade laut terhadap pelabuhan Iran, serta ancaman terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Melambatnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak global. Jalur ini krusial karena sekitar 20% dari total perdagangan minyak dunia melintasinya.
Barclays menilai bahwa pasar belum sepenuhnya memperhitungkan risiko pengetatan pasokan minyak global, mengingat persediaan minyak dunia saat ini berada pada level terketat dalam lima tahun terakhir. Kondisi ini, menurut BRI Danareksa Sekuritas, memberikan sentimen positif bagi emiten energi seperti MEDC, ENRG, ELSA, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan AKRA.
Dampak Langsung Konflik Timur Tengah
Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, meyakini bahwa konflik di Timur Tengah memberikan dampak yang kuat dan langsung terhadap sektor migas. Data LSEG menunjukkan hanya empat kapal yang melintas di Selat Hormuz pada Minggu (19/7/2026), mengindikasikan bahwa gangguan pasokan telah terjadi.
“Pengaruhnya kuat dan langsung. Gangguan pasokan sudah terjadi sehingga menjadi tailwind nyata bagi segmen upstream,” ujar Wafi kepada Investor Daily, Senin (20/7/2026). Ia menambahkan bahwa harga minyak Brent melonjak 15,9% dalam sepekan, menjadi katalis utama bagi emiten hulu migas (exploration and production/E&P).
Risiko Geopolitical Premium yang Volatil
Meskipun demikian, Wafi mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh geopolitical premium yang sangat volatil. Premi risiko ini dapat menghilang dengan cepat jika gencatan senjata tercapai atau jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali normal. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak belum mencerminkan perubahan fundamental yang bersifat struktural.
Menurut Wafi, MEDC dan ENRG menjadi emiten yang paling diuntungkan karena fokus utama bisnis mereka adalah di sektor hulu migas. Di sisi lain, ELSA bergerak lebih lambat karena bisnis jasa migasnya bergantung pada kontrak jangka panjang, sementara AKRA memiliki eksposur bisnis yang lebih beragam. Ia berpendapat bahwa penguatan saham migas saat ini lebih tepat dilihat sebagai event-driven trade dibandingkan fundamental re-rating.
Elandry Pratama, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas, sependapat bahwa konflik di Selat Hormuz berpotensi menaikkan harga minyak jika mengganggu distribusi. “Jika eskalasi berlanjut, harga minyak berpotensi kembali menguat akibat meningkatnya supply risk. Bagi saham migas Indonesia, kondisi ini menjadi sentimen positif, terutama bagi emiten sektor hulu,” ujarnya.
Prospek Teknikal dan Rekomendasi Saham
Secara teknikal, Elandry menilai MEDC masih menjadi saham dengan momentum paling menarik karena tren naiknya terjaga dan didukung volume transaksi yang solid. ENRG juga menunjukkan momentum positif meskipun volatilitasnya lebih tinggi. ELSA dinilai lebih stabil mengikuti ekspektasi peningkatan aktivitas jasa migas, sedangkan AKRA tidak sepenuhnya mencerminkan pergerakan harga minyak karena bisnisnya yang terdiversifikasi.
Elandry memperkirakan prospek saham migas tetap positif selama harga minyak bertahan di level tinggi. Namun, jika ketegangan geopolitik mereda, harga minyak berpotensi terkoreksi yang dapat memicu aksi ambil untung.
Panin Sekuritas merekomendasikan MEDC sebagai pilihan utama dengan target harga Rp1.600-Rp1.800 per saham. ENRG dinilai menarik bagi investor yang mengincar pertumbuhan agresif, sedangkan ELSA tetap prospektif sebagai pendukung aktivitas migas nasional, dan AKRA lebih defensif berkat bisnis distribusi energinya.
Sementara itu, Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, merekomendasikan buy on weakness MEDC dengan target Rp1.355-Rp1.385, trading buy AKRA di target Rp1.450-Rp1.500, serta buy if break ENRG di atas Rp1.350 dengan target Rp1.520-Rp1.625. Untuk ELSA, rekomendasinya adalah buy if break di level Rp635 dengan target Rp695-Rp715. Saham APEX masih dalam posisi wait and see.
Ikuti Detak.news
