— Harga emas dunia diprediksi masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai kombinasi sinyal teknikal yang semakin positif serta dukungan sentimen fundamental global masih membuka ruang bagi emas untuk bergerak ke level yang lebih tinggi. Harga emas hari ini terlihat melejit 1,21% ke level US$ 4.127,26 per ons troi saat berita ini ditulis.

Meski pasar diperkirakan tetap bergerak fluktuatif menjelang rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS), peluang kenaikan harga emas dinilai masih terbuka selama mampu bertahan di atas area support utama. Menurut Geraldo, pergerakan emas pada grafik harian mulai menunjukkan perubahan struktur yang mengarah ke tren bullish setelah sebelumnya berada dalam tekanan bearish. Sinyal tersebut terlihat dari terbentuknya pola double bottom, yang kerap menjadi indikasi berakhirnya tren turun dan dimulainya fase penguatan baru.

“Pola ini menunjukkan minat beli mulai meningkat sehingga peluang kenaikan emas dalam beberapa sesi perdagangan ke depan masih cukup besar,” ujar Geraldo dalam risetnya, Rabu (22/7/2026). Selain itu, Geraldo menambahkan, emas juga berhasil menembus moving average (MA) 21 yang sebelumnya berperan sebagai dynamic resistance. Keberhasilan menembus level tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai melemah dan pembeli mulai menguasai pasar.

Setelah berhasil ditembus, Geraldo memaparkan, MA 21 kini diperkirakan berubah fungsi menjadi dynamic support yang dapat menopang harga apabila terjadi koreksi jangka pendek. “Selama harga emas mampu bertahan di atas level US$ 4.060 per ons troi, tren penguatan masih berpotensi berlanjut,” paparnya. Level tersebut menjadi area support penting yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Jika bertahan, harga emas diperkirakan berpeluang menguji resistance di level US$ 4.201 per ons troi. “Apabila momentum beli terus menguat dan resistance tersebut berhasil ditembus, target kenaikan berikutnya berada di kisaran US$ 4.329 per ons troi,” tambah Geraldo.

Indikator teknikal lainnya juga masih memberikan sinyal positif. Stochastic Oscillator terus bergerak naik menuju area overbought, menandakan momentum beli masih cukup kuat meski mulai memasuki fase jenuh beli. Meski demikian, Geraldo mengingatkan investor tetap mewaspadai potensi aksi ambil untung (profit taking) ketika harga mulai mendekati area resistance US$ 4.201 per ons troi hingga US$ 4.329 per ons troi.

“Koreksi merupakan hal yang wajar dalam tren naik dan belum tentu mengubah arah utama pergerakan harga. Investor sebaiknya menunggu konfirmasi tambahan sebelum mengambil keputusan transaksi,” katanya. Dari sisi fundamental, Dupoin Futures menilai prospek emas masih ditopang tingginya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Selain itu, perhatian pasar juga masih tertuju pada arah kebijakan moneter The Fed.

Menurut Geraldo, apabila data ekonomi AS menunjukkan perlambatan atau inflasi semakin melandai, peluang The Fed melonggarkan kebijakan moneternya akan semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi menekan penguatan dolar AS dan menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), dua faktor yang secara historis menjadi katalis positif bagi harga emas. Sebaliknya, lanjut Geraldo, jika data ekonomi AS seperti Consumer Price Index (CPI), Non-Farm Payroll (NFP), Gross Domestic Product (GDP), maupun keputusan suku bunga The Fed menunjukkan hasil yang lebih kuat dari ekspektasi, dolar AS berpotensi menguat sehingga dapat memicu aksi profit taking pada emas.

Secara keseluruhan, Geraldo menilai prospek harga emas masih cenderung positif. Selama emas bertahan di atas level US$ 4.060 per ons troi, peluang melanjutkan kenaikan menuju US$ 4.201 per ons troi hingga US$ 4.329 per ons troi dinilai masih terbuka. “Namun, investor tetap disarankan menerapkan manajemen risiko dan mencermati perkembangan data ekonomi AS serta dinamika geopolitik global yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga emas,” tutup Geraldo.