— Prospek harga emas dunia diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada pekan ini. Analis Pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, menilai logam mulia berpotensi menembus level psikologis US$ 4.000 per ons troi seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan memudarnya momentum kenaikan emas.

Sepanjang pekan lalu, harga emas tercatat turun sekitar 2,5%, memperpanjang pelemahan menjadi dua pekan berturut-turut. Meskipun sempat pulih pada perdagangan Jumat (17/7/2026), kenaikan tersebut belum mampu menghapus tekanan yang membayangi logam mulia.

Menurut Razaqzada, level US$ 4.000 per ons troi sejauh ini masih mampu bertahan sebagai area penopang utama. Namun, secara teknikal maupun fundamental, peluang penembusan ke bawah semakin besar.

“Prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung bearish. Saya memperkirakan level US$ 4.000 per ons troi akan ditembus dalam waktu dekat,” ujar Razaqzada dalam risetnya, Minggu (20/7/2026).

Razaqzada menjelaskan, data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan memang sempat menekan dolar. Namun, kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk mengubah arah kebijakan The Fed. Pejabat The Fed Christopher Waller sebelumnya menegaskan, bank sentral masih membutuhkan tren penurunan inflasi yang konsisten selama beberapa bulan sebelum mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi kembali memicu inflasi. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi tersebut mendorong investor kembali memburu dolar AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga (zero-yield asset).

Selain faktor fundamental, Razaqzada menilai momentum kenaikan emas juga telah melemah. Setelah sempat mencatat reli panjang, harga emas kini kehilangan daya tarik bagi pelaku pasar spekulatif.

Analisis Teknikal Emas

Secara teknikal, Razaqzada memaparkan, emas masih bergerak di bawah garis tren penurunan serta rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) 21 hari. Sinyal bearish juga diperkuat setelah rata-rata pergerakan 50 hari memotong ke bawah rata-rata 200 hari (death cross).

Menurut Razaqzada, jika harga emas ditutup di bawah US$ 4.000 per ons troi, tekanan jual diperkirakan akan berlanjut menuju US$ 3.900 per ons troi, bahkan berpotensi menguji US$ 3.800 per ons troi. “Sebaliknya, apabila mampu bangkit, area resistensi berada di US$ 4.136 per ons troi, kemudian US$ 4.200 per ons troi, dan selanjutnya US$ 4.275 per ons troi,” paparnya.

Pada pekan ini, lanjut Razaqzada, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada sejumlah data ekonomi global yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan harga emas secara tidak langsung. Rabu (22/7/2026) akan dirilis data inflasi Inggris yang diperkirakan kembali melambat. Sehari setelahnya, Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga yang diperkirakan tetap ditahan, meski lonjakan harga energi dapat memengaruhi pandangan para pembuat kebijakan.

Sementara itu, Jumat (24/7/2026), pasar akan mencermati data indeks aktivitas manufaktur dan jasa (PMI) global sebagai indikator terbaru kondisi ekonomi dunia. Razaqzada menilai, selama harga energi tetap tinggi dan belum ada tanda perlambatan ekonomi AS yang signifikan, dolar AS masih berpeluang mempertahankan penguatannya. Kondisi tersebut membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas tetap rentan mengalami tekanan dalam jangka pendek.