— Meskipun tekanan inflasi global menunjukkan tanda-tanda mereda, harga emas tetap bertahan di kisaran US$ 4.000 per troy ounce. Namun, para analis menilai bahwa emas masih berpotensi mengalami koreksi lebih dalam.

Sentimen ketegangan di Timur Tengah yang kembali meningkat menjadi salah satu biang kerok utama. Konflik ini kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi global, yang berpotensi mendorong kembali inflasi.

Para analis memperkirakan, meskipun koreksi harga emas yang mencapai hampir 30% dari rekor tertingginya pada Januari lalu telah mencerminkan sebagian besar sentimen negatif, ketidakpastian yang terus berlanjut dapat mendorong penurunan lebih lanjut.

“Dalam jangka pendek, risiko utamanya adalah imbal hasil obligasi yang lebih tinggi, penguatan dolar AS, dan ekspektasi penurunan suku bunga yang lebih rendah,” kata Waleed Said, analis teknikal di GivTrade, dikutip dari Kitco News. Ia menambahkan bahwa meskipun banyak berita negatif sudah tercermin dalam harga, pasar belum sepenuhnya memperhitungkan guncangan inflasi yang berkepanjangan atau potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut dari Federal Reserve.

Meski demikian, Said meyakini bahwa di tengah risiko penurunan tersebut, emas masih memiliki peluang untuk kembali menguat. “Ini masih merupakan fase koreksi, belum mengindikasikan tren penurunan jangka panjang harga emas,” tegasnya.

Sementara itu, Neil Welsh, Kepala Divisi Logam di Britannia Global Markets, menyatakan bahwa pergerakan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada tren harga minyak dunia. “Jika harga energi terus naik, tekanan inflasi dapat memaksa The Fed untuk mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Untuk mematahkan penurunan emas saat ini, pasar kemungkinan akan membutuhkan perubahan signifikan dalam data ekonomi AS yang mengimbangi kekhawatiran inflasi atau sinyal yang lebih jelas bahwa bank sentral mendekati akhir siklus pengetatan moneter,” papar Welsh.

Lukman Otunuga, Analis Pasar Senior di FXTM, menyoroti kembali potensi penutupan Selat Hormuz yang dapat memicu kekhawatiran krisis pasokan dan inflasi, yang pada gilirannya akan mengangkat dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah. “Mengingat para pedagang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 56% pada bulan September, hal ini dapat membatasi potensi kenaikan harga emas,” kata Otunuga.

Ia menambahkan bahwa penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil kemungkinan akan membuat emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil, menjadi kurang menarik. “US$ 4.000 adalah batasnya. Penembusan yang jelas di bawah level tersebut akan membuka pintu untuk harga emas menurun ke US$ 3.950 dan US$ 3.900. Jika level tersebut bertahan, US$4.100 akan kembali terlihat,” ia memperkirakan.