Detak.news — Harga minyak dunia ditutup naik lebih dari 1% pada perdagangan Senin (20/7/2026). Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama antara Amerika Serikat dan Iran, serta ancaman blokade laut oleh kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.
Minyak mentah Brent tercatat menguat US$ 1,12 atau 1,3% menjadi US$ 89,22 per barel, bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 11 Juni di US$ 91,42. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 74 sen atau 0,9% ke US$ 83,23 per barel, setelah sebelumnya mencapai US$ 85,39, level tertinggi sejak 12 Juni.
Pergerakan harga yang volatil terjadi seiring memanasnya kembali konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat dilaporkan telah melancarkan serangan untuk malam kesembilan berturut-turut ke Iran. Selain itu, Kuwait dan Bahrain juga melaporkan adanya serangan lanjutan yang berasal dari Iran.
Di tengah ketegangan tersebut, seorang pejabat senior Iran mengungkapkan kepada Reuters bahwa negara-negara mediator telah menyampaikan proposal gencatan senjata selama 10 hari. Proposal ini diharapkan menjadi langkah awal untuk meredakan konflik dan membuka peluang dihidupkannya kembali kesepakatan sementara yang telah dicapai bulan lalu.
Analis Senior Capital.com, Daniela Hathorn, menyatakan bahwa prospek dimulainya kembali perundingan telah berhasil meredakan kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz. “Meski konflik masih jauh dari selesai, peluang negosiasi baru membantu menenangkan kekhawatiran pasar mengenai pasokan minyak dan jalur pelayaran di Selat Hormuz,” ujarnya.
Namun, risiko terhadap pasokan energi global tetap tinggi. Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Langkah ini berpotensi membuka front baru dalam konflik yang ada dan mengancam distribusi minyak dari kawasan Teluk.
Lonjakan Harga Minyak Berlanjut
Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge León, memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak lebih tinggi apabila gencatan senjata gagal terwujud dan gangguan di Selat Hormuz maupun Laut Merah semakin memburuk.
Menurut León, sekitar 2,5 juta barel minyak Arab Saudi per hari berisiko terdampak ancaman Houthi. Meskipun demikian, kenaikan harga minyak diperkirakan masih tertahan oleh tingginya pasokan minyak yang berada di atas kapal tanker di seluruh dunia. Data dari Kpler memperkirakan jumlahnya mencapai 1,35 miliar barel.
Sementara itu, data LSEG menunjukkan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz terus menurun. Pada Minggu, hanya empat kapal yang melintasi jalur tersebut, turun dari delapan kapal pada hari sebelumnya. Di saat yang sama, perusahaan pelayaran Yunani Dynacom Tankers melaporkan dua kapal tanker yang dikelolanya terkena proyektil saat berlayar di lepas pantai Oman.
Situasi ini semakin meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Meskipun demikian, ekspor minyak dan kondensat dari negara-negara Teluk pada paruh pertama Juli masih tercatat meningkat ke level tertinggi sejak sebelum perang Iran pecah.
Ikuti Detak.news
