Detak.news — Raksasa teknologi Amerika Serikat, IBM, tengah berupaya keras mewujudkan komputasi kuantum skala besar pertama yang ditargetkan mampu menjalankan perhitungan kompleks secara andal dan tanpa kesalahan pada 2029. Upaya ini mencakup penjajakan kolaborasi dengan para pakar di kawasan Asia.
IBM Fellow, VP for Quantum Systems, Oliver Dial, menjelaskan bahwa IBM telah menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi di Asia, termasuk National University of Singapore (NUS) di Singapura dan Yonsei University di Korea Selatan. Pusat inovasi kuantum yang berlokasi di NUS menjadi salah satu wilayah yang mengadopsi teknologi ini lebih awal.
“Banyak pengguna kami menggunakan komputer kuantum kami melalui cloud. IBM memiliki dua pusat data, satu di Amerika Utara dan satu di Eropa,” ungkap Oliver Dial dalam kegiatan IBM THINK on Tour di Singapura, seperti dikutip Kamis (23/7/2026).
Oliver menambahkan, IBM juga telah membawa komputer kuantum untuk ditempatkan di beberapa kawasan lain di Asia melalui penerapan di tempat (on-premises). Salah satunya di Universitas Yonsei, dan akan segera menyusul di India. “Jadi sebenarnya, saya pikir ada konsentrasi besar pengembangan komputer kuantum kami di Asia-Pasifik (APAC),” tuturnya.
Oliver memproyeksikan Asia dan Pasifik akan menjadi salah satu wilayah di dunia yang menjadi pengadopsi awal dan antusias terhadap komputasi kuantum.
Head of Quantum Enterprise ASEAN and India di IBM, Julian Tan, secara terpisah menyatakan bahwa pihaknya terbuka bagi pasar dan para ahli di Indonesia untuk turut serta dalam pengembangan komputasi kuantum. Saat ini, penjajakan potensi komputasi kuantum di Indonesia masih berfokus pada inisiasi, riset akademik, dan peningkatan sumber daya manusia.
“Kami sangat antusias dengan Indonesia yang memiliki sekitar 270 juta penduduk, tenaga kerja yang kuat dan sangat muda. Dan saya baru-baru ini juga melihat ada tiga juta kontributor yang berasal dari Indonesia, jadi potensinya jelas sangat kuat. Pertanyaannya adalah bagaimana sejauh ini minat pemerintah, swasta, maupun BUMN untuk mendapatkan investasi atau ikut serta (dalam pengembangan),” ujar Julian.
Ia membandingkan dengan negara lain seperti Singapura, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan yang telah mengembangkan komputasi kuantum selama bertahun-tahun. “Tetapi belum ada arahan resmi dari Indonesia untuk memulai (pengembangan). Percakapan ke arah tersebut sedang berlangsung, tetapi saya belum bisa merinci lebih banyak saat ini,” bebernya.
Sebelumnya, IBM telah mengumumkan rencana investasi senilai lebih dari US$ 10 miliar dalam pengembangan komputasi kuantum selama lima tahun ke depan. Pendanaan ini diumumkan setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump memutuskan mengambil kepemilikan saham senilai US$ 2 miliar di sembilan perusahaan yang mengembangkan komputasi kuantum.
Dilaporkan, IBM akan menerima sekitar separuh dari pendanaan tersebut untuk mendukung pembentukan perusahaan baru bernama Anderon, yang digadang-gadang menjadi fasilitas manufaktur chip kuantum khusus pertama di Amerika Serikat.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.