— Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih akan diwarnai sikap wait and see. Para pelaku pasar tidak hanya menanti keputusan mengenai BI Rate, tetapi juga mencermati arah kebijakan Bank Indonesia (BI) ke depan, terutama terkait stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan prospek arus modal asing.

Analis pasar modal, Hendra Wardana, mengatakan, “Dalam kondisi seperti ini, pasar umumnya lebih sensitif terhadap sinyal atau forward guidance yang disampaikan Bank Indonesia (BI) dibandingkan besaran suku bunga itu sendiri.” Menurutnya, selama BI tetap mengedepankan keseimbangan antara menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi, reaksi pasar diperkirakan cenderung positif karena sebagian besar ekspektasi tersebut telah diperhitungkan oleh investor.

Namun, Hendra menjelaskan, apabila muncul sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih mungkin terjadi, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Meski demikian, dia menegaskan, langkah tersebut juga dapat dipandang positif karena memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

“Dengan mempertimbangkan sentimen domestik dan global, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.000-6.300 sepanjang pekan RDG BI, dengan level 6.500 menjadi area penopang penting,” ujarnya.

Saham Pilihan

Kondisi pasar saham Indonesia saat ini dari sisi valuasi masih tergolong menarik. Dengan price to earnings ratio (PER) IHSG yang berada di bawah 9 kali, valuasi pasar dinilai relatif murah dibandingkan rata-rata historis maupun sejumlah bursa regional.

“Kondisi ini membuka peluang bagi investor jangka menengah hingga panjang untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap. Namun demikian, pilihan investasi tidak harus terbatas pada saham,” ungkapnya.

Menurutnya, obligasi pemerintah juga tetap menarik karena tingkat imbal hasil yang meningkat seiring kebijakan suku bunga, sehingga strategi diversifikasi antara saham dan obligasi menjadi pilihan yang lebih bijaksana dalam menghadapi ketidakpastian global.

“Di antara saham-saham unggulan, sektor perbankan masih menjadi pilihan utama,” kata Hendra merekomendasikan.

Adapun BMRI direkomendasikan trading buy dengan target harga 4.710, didukung pertumbuhan kredit yang solid dan valuasi yang masih menarik. BBCA tetap menjadi pilihan defensif dengan target 6.850 berkat kualitas aset yang sangat baik dan konsistensi pertumbuhan laba. BBRI memiliki target 3.130, ditopang prospek pemulihan kredit UMKM dan perbaikan profitabilitas, sedangkan TLKM layak dicermati dengan target 3.030 karena valuasinya yang relatif murah, potensi dividen yang menarik, serta prospek pertumbuhan bisnis digital.

“Secara keseluruhan, strategi yang paling relevan saat ini adalah buy on weakness atau melakukan pembelian secara bertahap ketika terjadi koreksi, bukan mengejar kenaikan harga,” ucapnya.

Dia menjelaskan, selama stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga dan arus modal asing terus membaik, peluang pemulihan IHSG hingga akhir tahun masih terbuka lebar, meskipun investor tetap perlu mewaspadai dinamika global yang berpotensi memicu volatilitas pasar sewaktu-waktu.