Detak.news — Investor di kawasan Asia menunjukkan tren kuat dalam memborong emas sepanjang Juni 2026. Fenomena ini berbanding terbalik dengan investor di Barat yang justru memilih mengurangi kepemilikan mereka pada logam mulia tersebut.
Di tengah perbedaan sikap pasar ini, permintaan emas dari bank-bank sentral dunia diprediksi akan terus meningkat, memberikan dukungan signifikan bagi harga emas dalam beberapa tahun mendatang.
Analis pasar logam mulia dari Schroders, seperti dikutip Kitco News pada Rabu (22/7/2026), mengamati bahwa pasar emas kembali menunjukkan pola pemisahan antara Timur dan Barat pada bulan Juni. Periode tersebut juga ditandai dengan koreksi harga emas yang hampir mencapai 12%.
Bank-bank sentral negara berkembang, khususnya di kawasan Timur, memanfaatkan penurunan harga emas sebagai momentum untuk melakukan penimbunan secara agresif. Langkah ini didorong oleh faktor struktural dan strategi jangka panjang dalam pengelolaan cadangan devisa.
Sebaliknya, investor Barat cenderung melakukan likuidasi atau melepas kepemilikan emas mereka. Sikap ini utamanya dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau “hawkish”.
Beberapa investor juga dinilai memperkirakan adanya perubahan besar dalam arah kebijakan The Fed, terutama jika Kevin Warsh mengambil peran yang lebih signifikan di bank sentral tersebut.
Schroders sejalan dengan konsensus pasar yang memprediksi harga emas akan mencapai titik terendah dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Kondisi ini diperkirakan terjadi setelah persepsi pasar terhadap sikap ketat The Fed mulai mereda.
Kepala Riset Ekonomi Schroders, David Rees, menilai bahwa tekanan inflasi di Amerika Serikat mulai meluas. Perekonomian negara tersebut juga dianggap beroperasi melampaui kapasitas optimal, sehingga membuka peluang kenaikan suku bunga.
Namun, analis logam mulia Schroders belum sepenuhnya sepakat dengan pandangan tersebut. Risiko lonjakan inflasi akibat fluktuasi harga energi dinilai telah berkurang. Ekspektasi inflasi ke depan juga mengalami penurunan tajam, sementara data pasar tenaga kerja masih menunjukkan kondisi yang beragam.
Schroders juga tengah berupaya memperkirakan berapa lama tren pembelian emas oleh bank sentral yang berada di atas rata-rata dapat bertahan. Pertanyaan ini dinilai menjadi faktor penting yang akan menentukan keberlanjutan tren kenaikan harga emas.
Polandia menjadi salah satu negara pembeli emas terbesar sejak Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022. Bank Nasional Polandia diperkirakan akan mencapai target kepemilikan emas sebanyak 700 ton pada 2026.
Schroders memprediksi Polandia akan tetap melanjutkan pembeliannya, meskipun target tersebut telah tercapai.
China, Pembeli Emas Paling Penting
Sementara itu, Schroders memandang People’s Bank of China (PBoC) atau Bank Sentral China sebagai pembeli emas negara yang paling krusial.
Penilaian ini tidak hanya didasarkan pada besarnya volume pembelian emas oleh China, tetapi juga pengaruh pembelian PBoC terhadap permintaan domestik serta keputusan bank sentral negara lain.
Schroders menilai peningkatan pembelian emas China ketika harga mengalami penurunan merupakan sinyal yang sangat menarik. Ketika harga emas berada di atas US$ 5.000 per troy ons pada Februari, China melaporkan pembelian sekitar 2 ton.
Volume pembelian kemudian melonjak lebih dari tujuh kali lipat menjadi 15 ton pada Juni, ketika harga rata-rata emas berada di kisaran US$ 4.250 per troy ons.
Perubahan ini dapat mengindikasikan tingkat harga yang dianggap menarik atau memiliki nilai strategis oleh Pemerintah China.
Fakta bahwa China tetap melaporkan pembelian meskipun harga emas berada di atas US$ 5.000 per troy ons juga dinilai penting. Hal ini menunjukkan bahwa pembelian tidak hanya ditentukan oleh faktor harga murah, tetapi juga kebutuhan diversifikasi cadangan devisa.
Schroders memperkirakan skala pembelian emas oleh PBoC sebenarnya bisa jauh lebih besar dibandingkan angka yang diumumkan secara resmi.
Sebagian besar laporan pembelian bulanan China terlihat relatif kecil jika dibandingkan dengan penyesuaian statistik yang diumumkan pada tahun 2003, 2009, dan 2015. Pada periode tersebut, PBoC mengumumkan secara sekaligus pembelian emas yang sebelumnya tidak dipublikasikan.
Perubahan besar dalam kondisi geopolitik global serta dinamika politik domestik Amerika Serikat dinilai dapat mendorong PBoC untuk lebih selektif dalam mengungkapkan data pembelian emasnya.
Menurut Schroders, langkah tersebut merupakan keputusan yang rasional dalam mengelola cadangan strategis China.
Schroders menilai bahwa ruang bagi China untuk terus meningkatkan cadangan emasnya masih sangat luas.
Dengan asumsi harga emas US$ 4.200 per troy ons, nilai cadangan emas China saat ini setara dengan sekitar 8,3% dari keseluruhan cadangan devisanya.
Apabila China ingin meningkatkan porsi emas menjadi 30% dari total cadangan devisa, dengan asumsi faktor lain tidak berubah, negara tersebut harus membeli sekitar 15 ton emas setiap bulan selama 33 tahun. Perhitungan ini menggunakan volume pembelian China pada Juni sebagai patokan.
Berdasarkan tolok ukur porsi emas sebesar 30% tersebut, potensi pembelian emas oleh bank-bank sentral lainnya dalam beberapa tahun mendatang juga masih sangat besar.
Kondisi ini membuat permintaan emas dari bank sentral diperkirakan akan tetap menjadi salah satu fondasi utama pasar emas global dan berpotensi menopang harga logam mulia dalam jangka panjang.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.