Detak.news — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi telah memasang ranjau di sepanjang jalur selatan Selat Hormuz. Langkah ini meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.
Juru Bicara IRGC Hossein Mohebbi menyampaikan pernyataan tegas, “Jalur selatan Selat Hormuz yang telah dipasangi ranjau akan menghancurkan investasi Anda. Jangan terjebak oleh tipu daya Amerika Serikat.” Pernyataan ini ditujukan sebagai peringatan kepada kapal-kapal komersial internasional.
Langkah Iran ini diambil menyusul ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan akan menghancurkan infrastruktur di Iran, termasuk jembatan atau pembangkit listrik, untuk setiap serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Adu Taktik Navigasi dan Pemblokadean
Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ahmad Bakhshayesh Ardestani menilai pemerintah AS justru memperkeruh keadaan. Ia menuduh AS mencoba mengalihkan lalu lintas kapal melalui jalur selatan di perairan Oman, padahal otoritas Iran mewajibkan setiap kapal untuk transit melalui rute yang dikontrol langsung oleh Iran.
Komando Pusat Khatam al-Anbiya Iran menegaskan kembali bahwa jalur perairan Selat Hormuz saat ini masih ditutup rapat bagi pelayaran. “Jika nantinya diputuskan untuk membuka kembali jalur tersebut, seluruh kapal diwajibkan melintas melalui rute yang telah ditetapkan oleh Iran,” bunyi pernyataan komando militer tersebut.
Puncak Ketegangan Iran dan AS
Krisis keamanan di Selat Hormuz merupakan puncak dari ketegangan yang kembali membara antara Iran dan Amerika Serikat. Pada pertengahan Juni lalu, kedua negara sempat menandatangani memorandum perdamaian untuk menghentikan konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Namun, gencatan senjata tersebut runtuh pada awal Juli 2026 setelah pasukan AS kembali menggempur sejumlah titik di Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim serangan udara tersebut dilakukan demi melindungi armada kapal komersial dari gangguan Iran.
Merespons gempuran AS, militer Iran melancarkan serangan balasan ke berbagai pangkalan militer AS di Timur Tengah. Tindakan ini mendorong Trump untuk secara resmi menyatakan kesepakatan damai tidak lagi berlaku, sehingga menyeret kedua negara ke ambang perang terbuka.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.