— Perjalanan sebuah usaha sering kali berawal dari mimpi sederhana dan keberanian untuk memulai. Hal itulah yang tergambar dari kisah pendiri Alfriandra Souvenir, Tri Yana, pelaku usaha penyedia souvenir pernikahan yang telah bertahan dan berkembang selama hampir tiga dekade.

Usaha yang dirintis sejak 1997 itu berawal dari modal hanya Rp7 juta untuk memproduksi gantungan kunci berbahan resin. Berbekal tekad untuk menjadi pribadi yang sukses sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain, Yana memulai usahanya dari skala rumahan. Kini, Alfriandra Souvenir telah berkembang menjadi salah satu pelaku UMKM yang terus berinovasi dan naik kelas bersama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI).

Bagi Yana, ukuran keberhasilan sebuah usaha bukan semata dari besarnya omzet. Lebih dari itu, keberhasilan adalah ketika usaha mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat serta menghasilkan produk yang diterima dan dicintai pelanggan. “Awalnya saya hanya bermodal nekat karena ingin menjadi orang yang sukses dan bermanfaat untuk sesama. Bagi saya, usaha yang berhasil adalah usaha yang bisa memberikan pekerjaan bagi banyak orang dan produknya disukai pelanggan,” ujar Yana.

Perjalanan Alfriandra Souvenir bersama BSI juga menunjukkan bagaimana akses pembiayaan yang tepat dapat mendorong pertumbuhan usaha. Mengawali kemitraan sebagai nasabah pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah, kini Alfriandra Souvenir telah berkembang menjadi nasabah segmen Small and Medium Enterprise (SME) BSI.

Menurut Yana, pertumbuhan usahanya tidak terlepas dari kerja keras, konsistensi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan tren dan kebutuhan pasar. Selain itu, usaha harus memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Inovasi menjadi kunci utama dalam industri souvenir yang sangat bergantung pada kreativitas dan selera konsumen.

Untuk menjaga kualitas produk, seluruh proses produksi dikelola dengan konsep home industri. Mulai dari penerimaan pesanan, proses percetakan, sablon, hingga pengemasan dilakukan sendiri sehingga kualitas produk dan pengelolaan usaha dapat terjaga dengan baik.

Komitmen BSI dalam mendampingi pelaku UMKM terus diwujudkan melalui berbagai program pembinaan, pelatihan, serta penyediaan akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi usaha. Upaya tersebut diharapkan mampu membantu para pelaku usaha meningkatkan kapasitas bisnis sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Saat ini jumlah nasabah UMKM BSI telah mencapai lebih dari 342 ribu pelaku usaha dari berbagai sektor. Sementara itu, pada posisi Mei 2026, pembiayaan segmen SME BSI mencatatkan pertumbuhan sebesar 19% secara tahunan menjadi Rp26,15 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sejumlah sektor produktif yang berkaitan erat dengan kebutuhan masyarakat, antara lain pertanian dan perkebunan, perdagangan besar dan eceran, jasa pendidikan, serta berbagai sektor lainnya.

Direktur Retail Banking BSI Kemas Erwan Husainy mengatakan, BSI terus memperkuat dukungan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. “Kami siap mendorong segmen kecil dan menengah sejalan dengan komitmen perseroan untuk berkontribusi untuk perekonomian nasional, terutama sektor-sektor pro kerakyatan yang memperluas lapangan kerja. Kelas usaha kecil dan menengah ini menjadi salah satu yang dibidik karena potensi mereka sangat besar jika dibina dan diberikan akses pembiayaan yang tepat,” ujar Kemas.

Kisah Alfriandra Souvenir menjadi salah satu bukti bahwa dengan semangat pantang menyerah, inovasi yang berkelanjutan, serta dukungan pembiayaan yang tepat, pelaku wirausaha Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh, naik kelas, dan menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.