Detak.news — LABUHANBATU – Lahan kosong seluas empat rante atau sekitar 1.600 meter persegi di Labuhanbatu, Sumatera Utara, disulap menjadi sumber cuan ratusan juta rupiah. Imam Syahputra, pemuda asal Rantauprapat, berhasil mengembangkan usaha budidaya melon yang tidak hanya menghasilkan pendapatan signifikan, tetapi juga bertransformasi menjadi destinasi wisata agro.
Sejak memulai budidaya melon pada tahun 2021, Imam menanam sekitar 4.000 batang melon dari dua varietas unggulan, yaitu Merlin (hijau) dan Golden Sweet (kuning). Perawatan optimal dan kondisi cuaca yang mendukung memungkinkan kebun seluas itu menghasilkan satu hingga dua ton buah melon dalam setiap kali panen.
Keunikan kebun melon ini terletak pada lokasinya yang berada di tengah kota, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Pengunjung tidak hanya datang untuk membeli buah segar, tetapi juga berkesempatan merasakan pengalaman memetik melon langsung dari pohonnya. Buah melon yang dipanen dikenal berukuran besar dan memiliki rasa manis karena dipetik pada tingkat kematangan yang pas.
Antusiasme masyarakat terhadap konsep wisata petik melon ini sangat tinggi. Buktinya, sekitar 8.000 buah melon berhasil ludes terjual hanya dalam kurun waktu tiga jam. “Memetik langsung buah melon dari kebunnya memiliki kesan tersendiri, lebih senang karena bareng teman-teman. Harga bervariasi ada yang 15 ribu, dan 25 ribu,” ujar Santi, salah seorang pengunjung pada Sabtu (25/7/2026).
Pengunjung lain, Ani Saragih, menambahkan bahwa memetik buah langsung dari kebun memberikan pengalaman berbeda. Ia merasa lebih puas karena dapat memilih buah yang diinginkan secara langsung dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan harga di pasar. “Kita merasa puas kalau langsung memetik buah melon langsung dari kebunnya, lebih segar dan kita bebas memilih, harganya juga lebih murah dari harga yang di pasar. Kita berharap agar kebun melon seperti ini semakin banyak di Labuhanbatu, karena peminatnya cukup banyak,” tuturnya.
Imam Syahputra menjelaskan bahwa tingginya antusiasme masyarakat mendorongnya untuk mengembangkan konsep wisata agro. Tujuannya adalah agar masyarakat lebih mengenal proses budidaya melon secara langsung. “Lahan kosong yang saya miliki ini dengan seluas 4 rante, saya tanami buah melon dengan 2 varietas. Saya membuat wisata agro tani agar masyarakat tahu bahwa ini lah tanaman melon, ini buahnya dan bagaimana rasanya kalau langsung memetik dari pohonnya. Budidaya melon ini sudah saya geluti dari 2021,” ungkap Imam.
Imam menekankan perbedaan kualitas melon yang dijual di kebunnya dengan yang beredar di pasar. Menurutnya, melon di pasar seringkali dipanen sebelum matang sempurna dan memerlukan proses pemeraman tambahan. “Beda melon di pasar dengan di sini adalah, kalau di pasar dia dipanen sebelum masak dan harus diperam lagi. Tapi kalau melon di sini langsung petik dan sudah pasti masak. Sudah dipastikan rasanya lebih manis,” jelasnya.
Tanaman melon umumnya dapat dipanen dalam waktu sekitar 60 hari setelah masa pindah tanam, dengan potensi panen tiga hingga empat kali dalam setahun. Keberhasilan Imam dalam memanfaatkan lahan terbatas untuk usaha budidaya melon sekaligus wisata agro ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk mengembangkan sektor pertanian sebagai peluang bisnis yang menjanjikan dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.