— PANDEGLANG – Sebuah lahan pekarangan rumah seluas kurang lebih 7×10 meter di Kampung Pasir Tangkil, Desa Bangkonol, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Banten, telah membuktikan potensinya sebagai sumber penghasilan yang signifikan.

Ahmad Sofian Sauri berhasil mengembangkan usaha budidaya lebah madu klanceng di lahan yang terbilang sempit tersebut. Usaha ini kini mampu menghasilkan omzet hingga jutaan rupiah setiap bulannya.

Awalnya dimulai dengan beberapa koloni lebah sekitar empat tahun lalu, budidaya madu klanceng milik Ahmad kini telah berkembang pesat. Saat ini, ia memelihara sekitar 250 stup atau kotak lebah. Koloni tersebut terdiri dari dua jenis lebah tanpa sengat, yaitu Trigona leaviceps dan Trigona itama, yang dikenal menghasilkan madu dengan cita rasa khas dan nilai ekonomi tinggi.

“Alhamdulillah, budidaya madu ini sudah berjalan kurang lebih empat tahun. Sekarang ada sekitar 250 stup atau kotak lebah yang kami pelihara,” ujar Ahmad, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Ahmad, budidaya lebah klanceng tidak memerlukan lahan yang luas maupun perawatan yang rumit. Tantangan utama dalam usaha ini justru datang dari hama, seperti cicak dan hewan lainnya yang dapat memangsa koloni lebah dan mengganggu produktivitas.

“Kalau ngomongin masalah kesulitan cuma hama. Dari segi cicak, entah itu yang lainnya, hama-hama yang lain,” jelas apiaris tersebut.

Madu hasil panen dikemas dalam botol berukuran 120 mililiter dan 250 mililiter. Meskipun pemasaran masih didominasi oleh penjualan langsung dari rumah, produk madu klanceng Ahmad telah menjangkau pasar di luar Kabupaten Pandeglang.

Pesanan madu miliknya datang dari berbagai daerah, mulai dari wilayah Jawa Barat hingga Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

“Alhamdulillah penjualannya sudah meluas, tidak hanya di Pandeglang, tetapi juga ke Jawa Barat, Banjarmasin, dan beberapa daerah lainnya,” ungkapnya.

Ahmad menjelaskan bahwa tingginya permintaan pasar tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat terhadap manfaat madu klanceng bagi kesehatan. Banyak konsumen yang membeli madunya untuk membantu menjaga kondisi tubuh atau sebagai pendamping pengobatan berbagai keluhan kesehatan.

“Ya banyak manfaatnya untuk yang punya penyakit diabetes, lambung kronis, terus kelenjar getah bening dan yang lainnya,” tuturnya.

Permintaan yang terus meningkat membuat Ahmad terkadang kewalahan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Namun, potensi ini belum sepenuhnya didukung oleh pemasaran digital, karena sebagian besar transaksi masih dilakukan secara langsung oleh konsumen yang mendatangi rumahnya.

“Kalau penjualan online belum maksimal. Kebanyakan pembeli datang langsung ke rumah. Permintaannya lumayan banyak,” ujarnya.

Keberhasilan Ahmad menjadi bukti nyata bahwa pekarangan rumah yang sering dianggap sebagai ruang kosong dapat dioptimalkan menjadi sumber ekonomi keluarga. Dengan pemanfaatan lahan terbatas, ketelatenan, dan inovasi, budidaya lebah madu klanceng mampu menciptakan nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha berbasis rumah tangga di pedesaan.

Ke depan, Ahmad berharap usahanya dapat terus berkembang dengan menambah jumlah koloni lebah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi madu agar mampu memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah.

“Harapan saya, mudah-mudahan tahun depan jumlah koloninya semakin banyak sehingga produksi dan penjualan juga terus meningkat,” pungkasnya.