Detak.news — Meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di kawasan Teluk memicu lonjakan harga energi dan menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap stagflasi global. Harga minyak mentah Brent kembali menembus level US$ 100 per barel, sementara inflasi diperkirakan meningkat di tengah prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini mempersulit langkah bank sentral di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Kembalinya eskalasi konflik di kawasan Teluk memudarkan harapan tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Hal ini memicu lonjakan harga energi dan kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stagflasi, yakni kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan lemahnya pertumbuhan ekonomi.
Harga minyak mentah Brent kembali menyentuh US$ 100 per barel, sementara harga gas alam di Eropa diperkirakan mencatat lonjakan bulanan terbesar sejak Maret. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya ekspektasi inflasi.
Situasi semakin diperburuk oleh meningkatnya ketidakpastian perdagangan global. Pada Jumat (24/7/2026), Amerika Serikat memberlakukan tarif baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap barang dari 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, Uni Eropa, dan China.
“Risiko stagflasi telah sangat nyata bagi setiap perekonomian sejak Maret, dengan cara yang berbeda-beda,” kata Head of Global Macroeconomics, Amundi Investment Institute, Alessia Berardi. Ia menilai eskalasi konflik terbaru semakin meningkatkan risiko tersebut. “Perluasan konflik baru-baru ini tentu saja akan meningkatkan risiko stagflasi,” ujarnya.
Harga energi kembali menjadi faktor utama yang mendorong ekspektasi inflasi jangka pendek. Minyak mentah Brent yang sempat turun hingga sekitar US$ 70 per barel pada awal Juli akibat optimisme tercapainya gencatan senjata, kini kembali menyentuh US$ 100 per barel setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Serangan tersebut memperluas gangguan terhadap jalur pelayaran energi global, tidak hanya di Selat Hormuz tetapi juga di Laut Merah. Sepanjang Juli, harga minyak tercatat melonjak hampir 40%, sehingga berpotensi membukukan kenaikan bulanan terbesar sejak Maret.
Kemudian, meski inflasi Amerika Serikat pada Juni tercatat lebih rendah dari perkiraan, lonjakan harga energi kembali mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di AS, Jepang, dan Jerman.
Citi’s Head of FX Quant Investor Solutions, Kristjan Kasikov, mengatakan pasar selama ini cenderung meremehkan dampak jangka panjang dari kenaikan harga komoditas. “Para pelaku pasar memperkirakan kenaikan harga komoditas ini bersifat sementara, namun hal ini patut diperhatikan,” katanya.
Indonesia Berpotensi Ikut Terdampak
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan meningkat menjadi 3,34% pada Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan 3,08% pada bulan sebelumnya. Angka tersebut masih berada dalam kisaran target pemerintah sebesar 2,5% ± 1%, namun menunjukkan tekanan harga mulai meningkat.
Perusahaan analitik Kpler memperkirakan sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga pangan global, terutama bagi negara berkembang yang bergantung pada impor energi dan bahan baku. Indonesia masuk dalam kriteria ini, mengingat ketergantungannya terhadap impor BBM, minyak olahan, kedelai, dan lainnya.
Tekanan inflasi juga berpotensi diperburuk oleh fenomena El Niño yang diperkirakan memengaruhi produksi pangan tahun ini.
Meningkatnya risiko inflasi membuat pelaku pasar kembali memperkirakan bank sentral akan melanjutkan kebijakan moneter ketat. Pasar memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) masih akan menaikkan suku bunga sekitar dua kali masing-masing 25 basis poin hingga akhir tahun, meski pada pertemuan terakhir mempertahankan suku bunga acuan.
Di Amerika Serikat, ekspektasi kenaikan suku bunga juga kembali meningkat setelah sebelumnya mereda menyusul rilis data inflasi Juni. Pasar kini memperkirakan Federal Reserve masih berpotensi menaikkan suku bunga dua kali hingga Januari mendatang.
Di Indonesia, kekhawatiran terhadap inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah telah mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% pada Mei dan Juni. Meski demikian, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Juli, memberikan sinyal yang cenderung netral terkait langkah selanjutnya, dengan menekankan bahwa pemberian insentif lebih mujarab dibandingkan menaikkan suku bunga.
Beberapa ekonom melihat BI memang perlu menahan lebih dulu BI-Rate, sembari memantau perkembangan inflasi. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini membuat pilihan bank sentral lebih terbatas. Salah satu ekonom bahkan menyebut BI perlu lebih agresif terkait suku bunga, dengan proyeksi BI-Rate dapat naik hingga 100 bps menjadi 6,75% di akhir tahun ini.
Tantangan terbesar bagi pembuat kebijakan, terutama di negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia dan kawasan euro, adalah kenaikan suku bunga memang dapat meredam inflasi, tetapi juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Terlebih, risiko perlambatan ekonomi global juga semakin meningkat. Kepala Ekonom Bank Dunia memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi global hingga hanya 1,3%, turun dari 2,9% pada tahun sebelumnya. Bank Indonesia sendiri telah memangkas proyeksi ekonomi global menjadi sebesar 3,0%.
Negara-negara Eropa diperkirakan menjadi kawasan yang paling rentan. Namun, negara-negara Asia, terutama di Asia Selatan dan Asia Tenggara, juga diperkirakan menghadapi tekanan besar karena sebagian besar kebutuhan minyaknya dipasok dari kawasan Teluk.
Jepang, misalnya, masih mampu memenuhi kebutuhan energi, tetapi pelemahan yen ke level terendah dalam empat dekade terhadap dolar AS membuat biaya impor melonjak ke rekor tertinggi dan semakin mendorong inflasi domestik. Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan Indonesia yang hingga kini masih berstatus sebagai importir bersih minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) olahan.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.