— JAKARTA – Keterbatasan lahan pemakaman di Indonesia telah mendorong pertumbuhan signifikan pada bisnis pemakaman swasta. Al Azhar Memorial Garden (AMG), salah satu pengelola pemakaman khusus Muslim, melaporkan kenaikan harga kavling makam mencapai sekitar 36% dalam lima tahun terakhir. Kenaikan ini sejalan dengan tingginya permintaan pasar.

Head of Business Development & Marketing AMG, Reza Hidayatullah, menjelaskan bahwa kenaikan harga terutama dipengaruhi oleh lonjakan permintaan lahan makam. Perusahaan melakukan penyesuaian harga berdasarkan kondisi pasar, termasuk perkembangan nilai tanah dan biaya operasional yang terus meningkat.

“Saat ini, harga kavling makam yang ditawarkan AMG mulai sekitar Rp68 juta sebelum diskon. Di luar harga kavling, keluarga juga perlu membayar sejumlah biaya wajib, antara lain prosesi pemakaman, batu nisan, pembangunan makam, serta penataan lanskap untuk tipe tertentu,” ujar Reza kepada Investor Daily.

AMG saat ini mengelola kawasan pemakaman seluas sekitar 25 hektare dengan kapasitas lebih dari 20.000 liang lahat. Data menunjukkan bahwa sekitar 90% lahan tersebut telah terjual hingga 2026, mengindikasikan semakin terbatasnya ruang ekspansi di kawasan yang sudah ada.

Setiap tahun, AMG menangani ratusan pemakaman dan dalam beberapa tahun terakhir mencatat peningkatan penjualan yang signifikan, bahkan hingga dua kali lipat. Meskipun demikian, pihak pengelola enggan mengungkapkan rincian nilai pendapatan maupun transaksi bisnis mereka.

Tingginya tingkat penjualan lahan ini memperlihatkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pemakaman yang terencana dengan baik. Di sisi lain, keterbatasan lahan menjadi tantangan bagi pengelola untuk menjaga ketersediaan kavling dalam jangka panjang. Hal ini diperparah oleh kenaikan harga tanah dan kebutuhan investasi untuk pembangunan fasilitas pendukung.

Menanggapi tantangan ini, AMG menyatakan memiliki rencana untuk menambah atau mengakuisisi lahan baru. Namun, detail mengenai lokasi, luas lahan, maupun nilai investasi yang disiapkan untuk ekspansi tersebut belum diungkapkan lebih lanjut.

Reza menambahkan bahwa tantangan utama dalam mengelola pemakaman swasta tidak hanya sebatas penyediaan lahan, tetapi juga upaya berkelanjutan untuk mempertahankan standar pelayanan dan perawatan kawasan. “Kami harus terus meningkatkan standar pelayanan dan perawatan,” ungkapnya.

Di tengah perkembangan bisnis ini, AMG tetap berkomitmen pada konsep pengelolaan makam sesuai syariat Islam sejak didirikan oleh Yayasan Pesantren Islam Al Azhar pada 2011. Konsep ini mencakup penentuan arah makam menghadap kiblat, proses pemulasaraan dan penguburan sesuai kaidah fikih, hingga perawatan makam yang presisi.

AMG juga menyediakan layanan darurat 24 jam untuk membantu keluarga yang membutuhkan dalam proses pemakaman. Reza menegaskan bahwa penerapan prinsip syariat Islam akan terus menjadi dasar pengelolaan, terlepas dari perubahan kebutuhan pasar dan tantangan industri yang dihadapi.

“Syariat Islam adalah fondasi yang tidak bisa ditawar, apa pun tantangannya,” imbuh Reza.

Menjelang usia 15 tahun pada 2026, AMG dihadapkan pada tantangan krusial untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan permintaan, keterjangkauan harga, kualitas layanan, dan ketersediaan lahan. Dengan 90% kavling yang telah terjual, ekspansi lahan menjadi faktor penting bagi keberlanjutan bisnis perusahaan sekaligus pemenuhan kebutuhan pemakaman masyarakat.