Detak.news — PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) berhasil membalikkan tren kinerja keuangan pada semester I-2026 dengan membukukan pertumbuhan positif pada laba bersih. Kinerja ini ditopang oleh kualitas pembiayaan yang tetap terjaga, penurunan beban provisi, serta ekspansi pembiayaan baru di tengah persaingan industri multifinance.
BFIN mencatatkan perbaikan kinerja keuangan pada semester I-2026 setelah laba sempat tertekan pada awal tahun. Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dirilis Jumat (24/7/2026), laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 828,97 miliar, meningkat 8,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebelumnya, pada kuartal I-2026, laba bersih perseroan sempat turun 12,61% secara tahunan menjadi Rp 354,35 miliar. Penurunan ini dipengaruhi lonjakan biaya provisi sebesar 42,37% menjadi Rp 279,28 miliar.
Memasuki kuartal II-2026, biaya provisi masih berada pada level tinggi, yakni Rp 292,48 miliar. Namun, secara tahunan nilainya turun 42,46%, menunjukkan risiko pembiayaan mulai lebih terkendali.
Perbaikan kualitas aset tercermin dari rasio non-performing financing (NPF) gross yang turun menjadi 1,55% pada Juni 2026 dari 1,57% pada Maret 2026. Angka ini bahkan jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri multifinance yang mencapai 3,06% per Mei 2026 berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dengan dukungan pertumbuhan pendapatan yang tetap terjaga, laba bersih perseroan pada kuartal II-2026 melonjak 33,02% secara tahunan menjadi Rp 474,62 miliar, sehingga mendorong pertumbuhan laba sepanjang paruh pertama tahun ini.
Presiden Direktur BFI Finance, Sutadi, dalam keterangan resmi, menyatakan bahwa perseroan mampu mempertahankan kinerja yang solid melalui strategi pertumbuhan yang mengutamakan kualitas pembiayaan dan disiplin dalam manajemen risiko. Menurutnya, capaian tersebut diraih di tengah dinamika permintaan pembiayaan dan persaingan industri yang masih berlangsung.
“BFI Finance berfokus pada strategi ketahanan bisnis jangka panjang sembari adaptif terhadap berbagai tantangan perubahan pasar serta melakukan langkah antisipatif dalam mengelola risiko,” kata Sutadi dalam keterangan resmi, Jumat (24/7/2026).
Kinerja tersebut juga mendorong return on assets (ROA) sebesar 8,1% dan return on equity (ROE) sebesar 15,1%, yang menunjukkan kemampuan perseroan mengelola aset dan modal lebih optimal.
Selain menjaga rasio pembiayaan bermasalah tetap rendah, BFI Finance mempertahankan coverage ratio terhadap NPF bruto sebesar 2,63 kali. Dari sisi permodalan, gearing ratio tercatat 1,2 kali, jauh di bawah batas maksimum regulator sebesar 10 kali.
Tetap Ekspansif
Di tengah pendekatan yang konservatif terhadap risiko, BFI Finance tetap agresif memperluas bisnis. Sepanjang semester I-2026, perseroan menyalurkan pembiayaan baru senilai Rp 10,7 triliun, yang didominasi pembiayaan kendaraan roda empat, baik melalui skema refinancing maupun kredit mobil bekas.
Pada periode yang sama, perseroan juga memperkuat tata kelola perusahaan melalui penyegaran jajaran pengurus. BFI Finance mengangkat Djemi Suhenda dan Abdul Haris Muhammad Rum sebagai Komisaris Independen, serta menunjuk Amitoaj Singh sebagai Direktur Manajemen Risiko.
Sebagai bentuk komitmen kepada pemegang saham, BFI Finance merealisasikan pembagian dividen tunai sebesar Rp 1,036 triliun pada kuartal II-2026, atau setara 65,5% dari laba bersih tahun buku 2025.
Berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPST&LB) pada 20 Mei 2026, pemegang saham menerima dividen sebesar Rp 70 per saham, yang terdiri atas dividen interim Rp 35 per saham yang dibayarkan pada 18 Desember 2025 dan dividen final Rp 35 per saham yang dibayarkan pada 18 Juni 2026.
Ke depan, Sutadi menegaskan bahwa perseroan akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas pembiayaan, serta penguatan tata kelola perusahaan guna menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
“Kami berterima kasih atas kepercayaan seluruh konsumen, mitra bisnis, dukungan regulator, para pemegang saham, serta seluruh pemangku kepentingan. Kepercayaan tersebut menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan kinerja yang sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” tandas Sutadi.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.