— Nilai tukar rupiah diprediksi kembali menghadapi pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026. Prediksi ini muncul setelah rupiah ditutup melemah pada akhir pekan sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan Jumat sore, 24 Juli 2026, mata uang Garuda melemah 27 poin atau 0,15% ke posisi Rp 17.963 per dolar AS. Posisi ini merupakan kelanjutan dari pelemahan dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.936 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada awal pekan depan. “Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah direntang Rp 17.960 – Rp 18.020 per dolar AS,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya pada Jumat (24/7/2026).

Untuk pergerakan nilai tukar rupiah dalam sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi rentang pergerakannya akan berada di antara level Rp 17.880 hingga Rp 18.250 per dolar AS.

Ibrahim menjelaskan bahwa sentimen geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan tarif impor Amerika Serikat akan terus memengaruhi pergerakan rupiah pada pekan mendatang. Sejak Jumat, Presiden AS Donald Trump secara resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap barang dari 60 mitra dagangnya, termasuk Indonesia.

Selain itu, eskalasi konflik di Timur Tengah turut berkontribusi pada kenaikan harga minyak dunia. Ibrahim menambahkan, data pasar tenaga kerja AS yang melampaui perkiraan juga menimbulkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif. Hal ini diperkuat oleh rilis klaim pengangguran awal AS yang turun secara tak terduga menjadi 187.000, level terendah dalam beberapa dekade, yang mendorong imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun acuan ke level tertinggi sejak Januari 2025.

Dari sisi domestik, rupiah juga diprediksi akan tertekan oleh lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi ini menekan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk memenuhi kebutuhan impor energi yang mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari.