— JAKARTA – Industri semen nasional mencatat pertumbuhan penjualan domestik sebesar 10,5% pada paruh pertama tahun 2026. Volume penjualan mencapai sekitar 30,71 juta ton, meningkat dari 27,78 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terlihat baik pada segmen semen kantong maupun semen curah, masing-masing naik sekitar 10,3% dan 11,1%.

Namun, para ahli menilai lonjakan ini sebagian besar dipengaruhi oleh efek basis rendah atau low base effect dari semester I-2025 yang mencatat penjualan rendah. Kekhawatiran mengenai kelebihan kapasitas produksi atau oversupply masih menjadi isu utama yang membayangi industri semen nasional.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa pertumbuhan persentase yang tinggi terjadi karena angka penjualan pada semester I-2025 berada di level yang sangat rendah. Ia merujuk pada data pendapatan penjualan tahun 2025 yang sempat melemah, dengan pendapatan kuartal I sekitar Rp7,6 triliun dan kuartal II Rp7,9 triliun, sebelum melonjak pada kuartal III dan IV masing-masing menjadi Rp9,7 triliun dan Rp9,9 triliun.

Senada, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menambahkan bahwa masalah kelebihan pasokan tidak merata di seluruh Indonesia. Oversupply paling terasa di Pulau Jawa dan kawasan Indonesia Timur, di mana kapasitas produksi besar belum diimbangi oleh permintaan konstruksi yang memadai. Situasi ini memaksa sejumlah pabrik bersaing ketat di pasar yang terbatas, sementara pertumbuhan proyek konstruksi belum mampu menyerap kapasitas produksi yang terus bertambah.

Perbaikan Permintaan Semen

Ketua Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi), Lilik Unggul Raharjo, mengakui adanya perbaikan permintaan pada semester I-2026, namun menekankan pentingnya membaca data ini dengan hati-hati karena pengaruh low-base effect. Jika dibandingkan dengan semester I-2024, pertumbuhan penjualan hanya sekitar 7,8%, dan dengan semester I-2022 hanya 4,2%. Ini menunjukkan pertumbuhan positif, tetapi belum pulih secara struktural.

Pertumbuhan permintaan semen di paruh pertama 2026 didorong oleh percepatan belanja pemerintah, revitalisasi fasilitas publik, pembangunan daerah, dan pemulihan aktivitas konstruksi. Namun, kontribusi sektor properti dan daya beli masyarakat tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.

Memasuki semester II-2026, Lilik memperkirakan peluang pertumbuhan permintaan masih ada, meskipun lajunya tidak sekencang semester pertama. Kecepatan realisasi proyek fisik dan belanja pemerintah akan menjadi penentu kinerja industri hingga akhir tahun. Permintaan diperkirakan akan ditopang oleh proyek pemerintah pusat dan daerah, revitalisasi fasilitas publik, pembangunan infrastruktur regional, perumahan, kawasan industri, pertambangan, serta aktivitas pembangunan dan renovasi masyarakat.

Untuk semen curah, kinerjanya akan lebih banyak dipengaruhi oleh realisasi proyek infrastruktur dan konstruksi berskala besar. Sementara itu, semen kantong akan bergantung pada pembangunan rumah, proyek kecil-menengah, serta aktivitas renovasi masyarakat, asalkan daya beli tetap terjaga.

Langkah Strategis Menjaga Industri

Di tengah tantangan ini, usulan Kementerian Perindustrian (Kemeperin) untuk memberlakukan moratorium atau penundaan sementara pembangunan pabrik semen baru dinilai layak dipertimbangkan. Esther berpendapat, sebelum ekspansi, pemerintah dan pelaku usaha sebaiknya mengoptimalkan kapasitas yang sudah ada. Moratorium dapat mencegah penambahan oversupply dan membantu memulihkan keseimbangan antara produksi dan permintaan secara bertahap.

Selain pengendalian kapasitas, pemerintah perlu mendorong peningkatan permintaan semen melalui percepatan pembangunan infrastruktur, proyek perumahan, kawasan industri, dan proyek strategis nasional. Faisal meyakini kebutuhan semen akan meningkat seiring membaiknya aktivitas ekonomi, terutama melalui program pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Faisal juga menyarankan pemerintah untuk mendorong ekspor guna menyerap kapasitas produksi yang belum terpakai. Perluasan pasar melalui pertumbuhan ekonomi, program pembangunan domestik, dan peningkatan ekspor dapat membantu industri semen tumbuh lebih sehat dan menjaga harga.

Lilik berharap pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara kapasitas dan permintaan untuk pertumbuhan industri semen yang berkelanjutan. Kebijakan pengendalian penambahan kapasitas baru, khususnya di wilayah yang sudah mengalami kelebihan pasokan, sangat penting. Industri juga membutuhkan kepastian dan percepatan realisasi belanja infrastruktur, pelaksanaan proyek yang konsisten, perluasan green public procurement, serta penggunaan semen rendah karbon dengan standar teknis dan harga yang kompetitif.

Dari sisi biaya, industri semen memerlukan kepastian pasokan energi dan batu bara dengan harga yang adil, termasuk perlakuan yang setara terkait kebijakan harga DMO. Kebijakan transportasi, Zero ODOL, perpajakan, energi, dan dekarbonisasi juga diharapkan terkoordinasi agar tidak menambah beban biaya secara bersamaan. Industri semen siap mendukung pembangunan nasional dan agenda dekarbonisasi, namun membutuhkan ekosistem kebijakan yang konsisten untuk tumbuh sehat, efisien, dan berkelanjutan.