Detak.news — Memasuki usia pensiun seringkali dianggap sebagai anugerah besar, sebuah momen istimewa untuk terbebas dari rutinitas yang membelenggu. Fase ini memberikan kesempatan luas untuk mengeksplorasi dimensi kehidupan yang lebih multidimensional, kompleks, dan menantang di luar pekerjaan sebelumnya. Seperti yang diungkapkan Seneca, keberuntungan adalah pertemuan antara persiapan dan peluang. Momen tersebut terwujud pada 17 Juni, saat Enok Rusmanah, Kepala Sekolah Lansia Ceria, bertemu dengan Dwi Mukti dalam acara Lansia Berwirausaha.
Acara yang dihadiri ratusan peserta dari kelompok Standar S1 dan S2 ini diselenggarakan di Sarimanah Tengah Blok 5, Sarijadi. Menggemakan pandangan Konfusius bahwa kehidupan kedua dimulai saat kita menyadari memiliki satu kesempatan hidup, masa pensiun menjadi waktu yang tepat untuk menentukan prioritas sejati, termasuk mempersiapkan keberuntungan melalui kewirausahaan.
Sekolah Lansia Ceria menawarkan program pemberdayaan kewirausahaan bagi para lansia. Program ini bertujuan memfasilitasi mereka untuk tetap mandiri secara ekonomi dan aktif secara sosial melalui kegiatan bisnis. Usaha yang dirancang khusus untuk lansia atau pensiunan memiliki karakteristik fleksibel, berisiko rendah, dan sesuai dengan kapasitas fisik, mengingat usia peserta berkisar antara 60 hingga 85 tahun.
Semangat para pensiunan untuk berwirausaha tersirat dari slogan ‘aktif, sehat, produktif, bahagia, berdaya, dan bermartabat’. Motivasi ini mendorong mereka untuk terjun ke dunia bisnis, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial pasca-pensiun, termasuk biaya kesehatan, tetapi juga untuk tetap aktif dan produktif. Lansia ingin memanfaatkan keahlian dan pengalaman yang dimiliki, menjaga kesehatan mental agar terhindar dari stres, serta terus berinteraksi dengan lingkungan sosial dan memperluas jaringan.
Namun, kewirausahaan lansia juga menghadapi sejumlah hambatan. Stamina kesehatan menjadi kendala utama, diikuti keterbatasan permodalan, aset, dan akses pembiayaan. Latar belakang pendidikan dan keahlian, persaingan bisnis, minimnya program pendampingan, serta kesenjangan adaptasi teknologi juga menjadi tantangan. Banyak lansia yang masih merasa kesulitan beradaptasi dengan teknologi baru.
Dari sisi permodalan, usaha lansia dapat didukung oleh berbagai sumber. Modal pribadi dari tabungan, manfaat pensiun, pesangon, atau pendapatan lain dapat menjadi sumber utama. Dukungan dari keluarga atau kerabat, sumbangan donatur, program corporate social responsibility (CSR) dari BUMN atau korporasi, serta program pemerintah seperti Program Lansia Produktif dari Kementerian Sosial atau pemerintah daerah juga dapat dimanfaatkan. Lembaga Keuangan Mikro pun bisa menjadi pilihan, meski bersifat komersial.
Tolok ukur kemajuan dan kesuksesan wirausaha lansia tidak hanya dilihat dari penghasilan tambahan. Kemandirian yang ditandai dengan kesehatan mental yang baik, kepuasan, dan peningkatan kualitas hidup menjadi indikator penting. Stamina prima, terhindar dari stres, aktivitas sosial yang aktif, serta penerimaan diri dari keluarga dan masyarakat juga merupakan bagian dari kesuksesan.
Usia senja bukanlah halangan untuk tetap produktif. Pengalaman hidup dan jam terbang yang dimiliki lansia merupakan modal bisnis yang sangat berharga. Menjadi tua adalah keniscayaan, namun memilih untuk mandiri dan produktif adalah sebuah pilihan. Tidak ada kata terlambat untuk belajar hal baru, termasuk berwirausaha.
Bagi lansia, keuntungan finansial seringkali bukanlah tujuan utama berwirausaha. Pengakuan dan proses itu sendiri sudah merupakan bentuk kesuksesan, sejalan dengan pandangan Jack Ma. Pada akhirnya, setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Yang terpenting adalah usaha yang gigih, karena usaha yang gigih tidak akan mengkhianati hasil.
*) Ketua Layanan Bantuan Hukum Persatuan Pensiunan Indonesia (LBH PPI) Provinsi Jawa Barat.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.