Detak.news — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap infrastruktur data pusat milik raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS), Amazon, yang beroperasi di Bahrain. Serangan ini dilaporkan terjadi pada Selasa (21/7/2026) menggunakan beberapa rudal jelajah.
Menurut laporan media pemerintah Iran yang terafiliasi dengan IRGC, Fars News Agency, serangan tersebut diklaim menghancurkan fasilitas data pusat tersebut. Hingga berita ini ditayangkan, pihak Amazon dan Pusat Komunikasi Nasional Bahrain belum memberikan tanggapan resmi. Klaim ini juga belum dikonfirmasi secara independen oleh laporan media internasional lainnya.
Ancaman terhadap perusahaan teknologi AS di kawasan ini bukanlah hal baru. Pada Maret 2026, pusat data Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab dan Bahrain sempat mengalami kerusakan akibat serangan drone. Pada April 2026, IRGC bahkan mengancam akan menyerang jajaran raksasa teknologi AS lainnya di Timur Tengah, termasuk Nvidia, Apple, Microsoft, dan Google.
Eskalasi Militer dan Dampaknya pada Jalur Vital
Aksi saling serang antara AS dan Iran kembali memanas selama 10 hari terakhir setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata telah berakhir. Sejak saat itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) dilaporkan menggempur Iran selama 10 malam berturut-turut untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran di Selat Hormuz.
Dampak konflik ini dilaporkan melumpuhkan jalur pelayaran vital dunia. Menurut data Kpler, hanya 30 kapal yang melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan lalu, sebuah penurunan tajam dari rata-rata lebih dari 100 kapal per hari sebelum konflik meletus pada 28 Februari 2026. Penurunan lalu lintas kapal di jalur yang mengangkut sekitar 25% perdagangan minyak mentah jalur laut dunia ini sempat mendorong harga minyak mentah jenis Brent melampaui level US$ 90 per barel pada 20 Juli 2026.
Para analis memperingatkan bahwa jika gangguan berlanjut hingga Agustus 2026, harga minyak mentah global berpotensi menembus angka tiga digit. Kondisi semakin rumit setelah milisi Houthi di Yaman mendadak mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada Senin (20/7/2026). Ancaman penutupan Selat Bab el-Mandeb oleh Houthi berpotensi menyumbat jalur pipa Red Sea yang selama ini menjadi semacam katup penyelamat ekspor minyak Arab Saudi saat Selat Hormuz dilumpuhkan.
Meskipun mediator regional seperti Qatar dan Pakistan dikabarkan telah mengajukan draf gencatan senjata selama 10 hari kepada AS dan Iran, jalan menuju perdamaian masih sangat terjal. Para pengamat geopolitik menilai Washington kini berada dalam posisi sulit: harus menghadapi perang urat saraf berkepanjangan, melakukan eskalasi militer lebih jauh, atau memberikan konsesi politik kepada Iran.
Latar Belakang Konflik dan Dampak Global
Eskalasi militer di kawasan Teluk meletus sejak 28 Februari 2026 setelah serangan udara gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran. Konflik ini tidak hanya menyeret kekuatan militer kedua negara, tetapi juga menyasar infrastruktur fisik, jalur logistik energi, hingga pusat data teknologi global yang beroperasi di Timur Tengah.
Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb merupakan dua titik penyempitan maritim paling krusial di dunia. Lumpuhnya kedua jalur ini tidak hanya mengancam stabilitas pasokan energi ke pasar Asia dan Eropa, tetapi juga mengganggu ekosistem digital dan perdagangan global secara menyeluruh.
Ikuti Detak.news
