Detak.news — JAKARTA – Kinerja PT Timah Tbk (TINS) diproyeksikan mengalami lonjakan signifikan pada kuartal kedua tahun 2026. Hal ini seiring dengan membaiknya iklim bisnis dan kenaikan harga komoditas timah di pasar global.
Berdasarkan riset CGS International, laba bersih TINS diperkirakan melesat 709% menjadi Rp1,5 triliun pada kuartal II-2026. Kenaikan laba ini berpotensi mendorong harga saham TINS menuju target yang lebih tinggi.
Faktor utama di balik proyeksi ini adalah kenaikan harga timah di London Metal Exchange (LME) yang mencapai 60% menjadi US$51,9 ribu per ton pada kuartal II-2026. “Pendapatan diprediksi naik 131% menjadi Rp4,9 triliun pada periode tersebut,” tulis CGS dalam laporannya.
Secara kumulatif, laba TINS pada semester I-2026 diprediksi menyentuh Rp3 triliun. Angka ini setara dengan 58% dari proyeksi setahun penuh CGS dan 119% dari konsensus analis. Jika terealisasi, jumlah tersebut merupakan peningkatan sepuluh kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp300 miliar.
Pemerintah Tertibkan Tambang Ilegal, TINS Diuntungkan
CGS International menilai, PT Timah Tbk mendapatkan keuntungan dari langkah pemerintah dalam menertibkan aktivitas penambangan timah ilegal. Kebijakan ini berdampak pada penurunan total ekspor timah nasional sebesar 25% menjadi 19,4 ribu ton pada semester I-2026.
Namun, ekspor TINS pada kuartal II-2026 justru menunjukkan peningkatan sebesar 113%. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan ekspor Indonesia lebih banyak disebabkan oleh terhentinya aktivitas penambangan ilegal, bukan dari jalur ekspor formal yang dijalankan oleh TINS. Saat ini, TINS menguasai pangsa pasar ekspor timah Indonesia sebesar 52%.
Rekomendasi Saham TINS
Analis CGS International menyematkan rekomendasi ‘add’ untuk saham TINS dengan target harga Rp5.500. Target harga ini didasarkan pada Price to Earnings Ratio (PER) tahun 2027 sebesar 7 kali. Potensi keuntungan (gain) mencapai 54% jika dibandingkan dengan harga saham saat riset dibuat, yaitu Rp3.570.
Ikuti Detak.news
