Detak.news — Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi pilihan utama investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 20 Juli 2026. Data Stockbit Sekuritas mencatat, investor asing mencetak transaksi beli bersih atau net buy saham TPIA sebesar Rp 349,3 miliar di pasar reguler.
Jumlah net buy asing pada saham TPIA ini merupakan yang terbesar dibandingkan saham-saham lainnya pada hari tersebut. Posisi kedua ditempati oleh saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan net buy asing senilai Rp 97 miliar.
Sementara itu, transaksi jual bersih atau net sell terbanyak oleh investor asing tercatat pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mencapai Rp 238,8 miliar. Diikuti oleh saham PT Astra International Tbk (ASII) dengan net sell asing senilai Rp 172,79 miliar.
Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 96,7 miliar di seluruh pasar BEI pada hari yang sama. Dengan demikian, total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini mencapai Rp 75,6 triliun, berdasarkan data dari BEI.
Ekspansi dan Akuisisi Dorong Pertumbuhan TPIA
PT Chandra Asri Pacific (TPIA) diproyeksikan akan terus mencetak pertumbuhan laba yang signifikan. Hal ini didorong oleh strategi ekspansi dan serangkaian akuisisi yang telah dilakukan, yang diperkirakan akan meningkatkan kapasitas produksi perusahaan secara drastis.
Analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana dan Naufal Rafi Kamal, menyatakan bahwa salah satu faktor kunci di balik pemulihan kinerja Chandra Asri (TPIA) adalah strategi ekspansi anorganik yang agresif selama periode 2025 hingga awal 2026. “Strategi itu secara signifikan memperkuat eksposur Chandra Asri di bisnis energi dan petrokimia hilir,” tulis Ashalia dan Naufal dalam riset mereka.
Emiten berkode saham TPIA ini telah melakukan beberapa akuisisi strategis. Pada April 2025, TPIA mengakuisisi Singapore Energy and Chemicals Park milik Shell, yang kini beroperasi dengan nama Aster Chemicals and Energy (ACE). Kompleks ini mencakup fasilitas steam cracker etilena serta platform bisnis kimia hilir.
Selanjutnya, pada Mei 2025, TPIA mengakuisisi aset Chevron Phillips Chemical, yang sekarang dikenal sebagai Aster Polymer Solutions (APS). Akuisisi ini bertujuan untuk menambah kapasitas produksi high-density polyethylene (HDPE), jenis plastik polietilena berkepadatan tinggi yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi industri.
Pada Juni 2025, TPIA juga menyelesaikan akuisisi condensate splitter unit (CSU) dari PCS Pte Ltd. Fasilitas pemisahan kondensat ini sedang dalam proses revitalisasi untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas operasionalnya.
“Secara keseluruhan, rangkaian transaksi tersebut mendorong total aset TPIA meningkat 118% year-on-year menjadi US$ 12,3 miliar pada 2025,” ungkap Ashalia.
Memasuki tahun 2026, TPIA semakin memperkuat lini bisnis energinya melalui akuisisi jaringan ritel bahan bakar bermerek Esso milik Exxon Mobil pada Januari 2026.
Chandra Asri Pacific (TPIA) merupakan produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Perusahaan ini didukung oleh Grup Barito Pacific milik konglomerat Prajogo Pangestu, dengan SCG Chemicals (SCGC) sebagai mitra strategis sejak 2011 dan Thai Oil sejak 2021.
Ikuti Detak.news
