— Whitesky Group menjajaki pembelian 60 unit eVTOL (electric Vertical Take-Off and Landing) dari Shanghai Volant Aerotech Co., Ltd. Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LOI) yang berlangsung di Shanghai, China, pada 22 Juli 2026, dalam rangkaian forum ekonomi wilayah jelajah udara rendah (low-altitude economy).

Kesepakatan ini merupakan bagian dari strategi Whitesky Group untuk mempercepat transformasi mobilitas udara di Indonesia. Selain itu, ini juga menjadi langkah perusahaan untuk memperluas pengalaman operasionalnya, yang sebelumnya berfokus pada layanan helikopter, ke pengembangan generasi baru Advanced Air Mobility.

Founder dan CEO Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja, menyatakan bahwa LOI tersebut mencerminkan keseriusan perusahaan dalam mewujudkan implementasi teknologi eVTOL di Indonesia. “Melalui LOI ini, Whitesky menyiapkan rencana pembelian 60 unit eVTOL Volant. Namun, langkah ini bukan semata-mata mengenai jumlah pesawat. Kami sedang membangun jalur implementasi agar teknologi ini dapat beroperasi secara aman, sesuai regulasi, dan layak secara komersial,” ujar Denon Prawiraatmadja dalam keterangan resmi, Kamis (23/7/2026).

Pengadaan pesawat ini direncanakan untuk mendukung beragam skenario operasional. Cakupannya meliputi konektivitas perkotaan, akses menuju dan dari bandara, sektor pariwisata, pertambangan, perkebunan, hilirisasi industri, hingga perjalanan antarpulau jarak pendek. Realisasi pengadaan akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan proses sertifikasi pesawat, persetujuan regulator, kesiapan infrastruktur, evaluasi teknis, serta kelayakan model bisnis.

Denon Prawiraatmadja menambahkan, “Indonesia memiliki kebutuhan konektivitas yang sangat nyata. Pasarnya tidak hanya berada di kota besar, tetapi juga tersebar di kawasan industri, destinasi pariwisata, dan wilayah kepulauan yang membutuhkan solusi mobilitas lebih fleksibel.”

Pengalaman Whitesky Group dalam operasi helikopter, pengembangan heliport, dan layanan mobilitas udara lintas sektor menempatkannya tidak hanya sebagai calon pembeli pesawat, tetapi juga sebagai operator, pengembang infrastruktur, penyusun skenario penggunaan, dan mitra implementasi lokal bagi produsen eVTOL global. “Whitesky tidak memulai pengembangan eVTOL dari ruang kosong. Kami telah memiliki pengalaman operasi, infrastruktur, pemahaman pasar, dan hubungan dengan berbagai sektor industri di Indonesia,” jelas Denon Prawiraatmadja.

Selain rencana pengadaan armada, kerja sama strategis antara Whitesky dan Volant juga mencakup kesiapan operasional, dukungan teknis, pelatihan pilot dan teknisi, pemeliharaan, pengembangan vertiport, serta penyusunan model pembiayaan yang inovatif.

Dalam kesempatan yang sama, Denon Prawiraatmadja turut menjadi pembicara dalam seminar internasional bertajuk “APAC & Middle East Market Access & Globalization Practice”. Ia memaparkan pentingnya kesiapan infrastruktur, kerangka regulasi yang matang, pengalaman operasional yang teruji, model pembiayaan yang kuat, serta kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan implementasi komersial eVTOL.

Melalui LOI ini, Whitesky Group berambisi menempatkan Indonesia tidak hanya sebagai pasar potensial bagi teknologi eVTOL, tetapi juga sebagai pusat implementasi yang mampu menghubungkan kapabilitas manufaktur global dengan kebutuhan konektivitas unik dari sebuah negara kepulauan.