— PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memasuki era baru dalam diversifikasi pendapatannya dengan dimulainya pengiriman perdana produk aluminium. Langkah ini menandai babak baru bagi perusahaan dan memicu penetapan target harga baru untuk sahamnya.

Melalui anak usahanya, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), ADRO berhasil melakukan ekspor perdana aluminium sebanyak 35 kiloton (kt) pada Juni 2026. Volume ini setara dengan 35.000 ton, yang sebagian besar dialokasikan untuk pasar Amerika Serikat (31,5 kt atau 31.500 ton) dan sisanya untuk Korea Selatan (3,6 kt atau 3.600 ton).

“Ekspor perdana tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya diversifikasi sumber pendapatan ADRO,” tulis analis MNC Sekuritas, Raka Junico W, dalam risetnya yang dikutip pada Minggu (19/7/2026).

Dengan kapasitas produksi awal mencapai 500 kiloton per tahun (ktpa) dan potensi peningkatan hingga 1,5 juta ton per tahun (mtpa), MNC Sekuritas memperkirakan bisnis aluminium ADRO dapat menyumbang pendapatan tahunan sebesar US$ 1,5 miliar hingga US$ 4,5 miliar. Perkiraan ini didasarkan pada asumsi harga jual rata-rata (ASP) aluminium sebesar US$ 3.000 per ton.

Akibatnya, MNC Sekuritas menaikkan estimasi laba bersih ADRO untuk tahun 2026 sebesar 21% menjadi US$ 612 juta, yang mencerminkan pertumbuhan 37% secara tahunan. Revisi ini terutama didorong oleh peningkatan estimasi produksi aluminium menjadi 275.000 ton dari perkiraan sebelumnya 198.000 ton, serta kenaikan asumsi ASP aluminium menjadi US$ 3.000 per ton.

Estimasi pendapatan ADRO tahun ini juga direvisi menjadi US$ 2,8 miliar. Sementara itu, asumsi ASP batu bara kokas dipertahankan sebesar US$ 173 per ton, yang berarti ada peningkatan 12,5% secara tahunan.

Target Harga Baru ADRO

MNC Sekuritas kembali menegaskan rekomendasi beli untuk saham ADRO dan menaikkan target harganya menjadi Rp 3.300 per saham, naik dari target sebelumnya Rp 2.700.

Target harga baru ini mencerminkan valuasi EV/EBITDA sebesar 5 kali untuk proyeksi tahun 2026. “Kami memandang positif prospek ADRO, terutama setelah dimulainya pengiriman aluminium yang akan memperkuat dan memperluas sumber pendapatan perusahaan ke depan,” ujar Raka.

MNC Sekuritas memperkirakan rata-rata pertumbuhan pendapatan tahunan ADRO selama lima tahun (5Y CAGR) mencapai 17%. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah diprediksi akan menjaga harga batu bara tetap tinggi, memberikan bantalan bagi margin keuntungan ADRO di tengah potensi kenaikan biaya bahan bakar.

Risiko utama yang perlu diwaspadai antara lain tingkat utilisasi smelter yang lebih rendah dari perkiraan atau turun di bawah 40%, penurunan ASP batu bara kokas hingga di bawah US$ 150 per ton, serta volume pengupasan lapisan penutup (overburden removal) yang lebih rendah dari estimasi.

Pada kuartal I-2026, ADRO berhasil mencetak laba bersih sebesar US$ 128 juta, melonjak 67% secara tahunan, meskipun mengalami penurunan 12% secara kuartalan. “Capaian tersebut melampaui perkiraan kami dan telah memenuhi 25% dari target laba bersih tahun 2026,” pungkas Raka.

Batu bara kokas tetap menjadi kontributor utama pendapatan ADRO, menyumbang 56%. ASP batu bara kokas tercatat naik 16% menjadi US$ 182,2 per ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.