Detak.news — Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan masih mempertahankan keputusan jeda pertempuran sementara hingga Senin (27/7/2026). Langkah penangguhan militer ini diambil untuk memberikan ruang bagi proses diplomasi dan negosiasi perdamaian permanen, yang sempat menghadapi hambatan besar pada akhir pekan lalu.
Militer AS menghentikan serangan yang telah berlangsung selama dua pekan sejak Jumat (24/7/2026). Bersamaan dengan itu, pemerintah Iran juga menahan diri dari operasi militer terhadap sasaran regional. Respons timbal balik dari Iran ini merupakan respons terhadap dorongan konsolidasi diplomatik yang dipimpin oleh China di Pakistan.
Meskipun demikian, eskalasi di wilayah sekitar masih membayangi. Pada akhir pekan, militer Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman sebagai balasan atas gangguan pada jalur pelayaran Laut Merah. Sementara itu, militer Ukraina dilaporkan menyerang kapal komersial Iran di Laut Kaspia yang diduga mengangkut logistik militer untuk Rusia. Aksi ini dikecam oleh pihak Iran sebagai tindakan kriminal dan bermusuhan.
Sentimen Pasar: Harga Minyak Dunia Merosot
Keputusan jeda konflik ini memberikan angin segar bagi pasar keuangan global. Sebelumnya, Gedung Putih sempat memberikan sinyal akan melancarkan serangan masif ke Iran. Merespons peredaan ketegangan ini, harga minyak dunia merosot hingga 6% pada perdagangan Senin pagi, mengindikasikan optimisme investor dan kinerja positif pasar saham Wall Street.
Kendati jeda senjata disambut positif, para ahli memperingatkan bahwa proses menuju perdamaian permanen masih menghadapi kerikil tajam. Beberapa isu krusial yang harus disepakati kedua belah pihak meliputi masa depan program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, serta dukungan Iran terhadap kelompok milisi proxy di Timur Tengah.
Dari sudut pandang ekonomi global, poin perundingan terpenting adalah jaminan keamanan maritim serta pemulihan arus lalu lintas kapal melintasi Selat Hormuz. Selat vital ini, yang sebelumnya dilalui seperlima dari total pasokan minyak dunia, saat ini masih ditutup akibat blokade yang diterapkan militer AS.
Peta Hambatan Negosiasi AS – Iran:
- Keamanan Maritim → Pembukaan Jalur Selat Hormuz & Laut Merah
- Isu Strategis → Masa Depan Program Nuklir & Pencabutan Sanksi
- Dinamika Regional → Aktivitas Milisi Proxy & Konflik Jalur Pelayaran
Oman, negara yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, kini memegang peranan kunci sebagai mediator. Delegasi Oman telah melawat ke Iran untuk merumuskan kesepakatan sementara terkait penataan transit kapal komersial.
Analisis dari Deutsche Bank mengingatkan bahwa normalisasi jalur pelayaran belum akan terjadi dalam waktu dekat. “Risiko utama pasar masih tertuju pada sektor energi dan pelayaran. Arus lalu lintas di Selat Hormuz masih terganggu parah, sementara konflik telah meluas ke Laut Merah. Ini adalah jeda yang menyegarkan dari para aktor utama, tetapi sifatnya masih sangat rapuh,” tulis laporan analisis Deutsche Bank.
Selat Hormuz merupakan titik penyempitan (chokepoint) minyak paling krusial di dunia yang menghubungkan Produsen Minyak Timur Tengah seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Iran dengan Teluk Oman serta Samudra Hindia. Dalam kondisi normal, koridor laut sempit ini dilewati oleh sekitar 20–21 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari, atau setara dengan 20% dari total konsumsi cairan petroleum dunia dan sepertiga dari total perdagangan gas alam cair (LNG) global.
Ketegangan militer antara AS dan Iran yang memicu blokade dan penutupan jalur Selat Hormuz selalu berdampak langsung pada guncangan pasokan energi global (energy supply shock). Penutupan akses pelayaran ini tidak hanya melipatgandakan biaya asuransi kapal dan ongkos logistik laut, tetapi juga memicu risiko inflasi energi global secara meluas. Oleh sebab itu, keberhasilan negosiasi diplomatik untuk memulihkan keamanan maritim di Selat Hormuz dan Laut Merah menjadi tolok ukur utama dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan rantai pasok dunia.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.