— JAKARTA, Tantangan likuiditas yang diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun mendorong perbankan nasional menyusun ulang strategi pendanaan. Sejumlah bank berlomba menarik dana murah, menjaga loyalitas nasabah, serta menyiapkan alternatif pendanaan seperti penerbitan obligasi.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon LP Napitupulu mengungkapkan bahwa likuiditas masih menjadi tantangan utama industri perbankan pada semester II-2026. Hal ini seiring tingginya biaya dana dan ketatnya persaingan penghimpunan dana masyarakat. Kondisi tersebut diperkirakan akan menekan pertumbuhan kredit, sehingga bank harus makin selektif dalam mengelola pendanaan dan menjaga efisiensi biaya dana.

Pengetatan likuiditas dipicu oleh kombinasi tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), meningkatnya imbal hasil Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta persaingan suku bunga deposito di industri. Meskipun kondisi sempat membaik setelah adanya penempatan kembali dana pemerintah melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL), tekanan likuiditas diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun.

“Likuiditas masih cukup ketat dan itu menjadi pekerjaan rumah kami sampai akhir tahun, karena itu kami terus memperkuat struktur pendanaan dengan meningkatkan dana murah dan mengurangi ketergantungan pada sumber dana berbiaya tinggi,” jelas Nixon.

Untuk menjaga ruang ekspansi kredit, BTN mengoptimalkan penghimpunan dana murah (CASA), mempercepat transformasi digital guna meningkatkan saldo tabungan nasabah, serta menyiapkan alternatif pendanaan melalui sekuritisasi aset dan penerbitan obligasi. Di sisi lain, perseroan juga lebih selektif menyalurkan kredit pada segmen korporasi dengan bunga rendah karena kondisi likuiditas saat ini yang cenderung mahal.

Nixon mengakui penempatan dana SAL membantu perseroan menekan biaya dana setelah sempat melonjak. Namun, penarikan yang fleksibel membuat bank cukup kaget lantaran waktunya bersamaan dengan penaikan BI Rate dan juga imbal hasil SRBI yang tinggi. Alhasil, perseroan perlu ikut berebut dana dengan industri.

Pihaknya telah menghadap ke Kementerian Keuangan mengenai waktu penarikan dana SAL, supaya tidak seperti sebelumnya. “Kami bilang situasi bisa dicegah kalau ada timing penarikannya, kalau semua bersamaan BI Rate naik, SRBI naik, semua bersamaan nyedot dana, udah pasti bank kalah. Ini memicu bank-bank berlomba naikkan bunga deposito,” beber Nixon.

Pada bulan Juni, terdapat penarikan dana SAL secara bertahap. Kemudian, karena Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) merasa likuiditas langsung mengetat, Kementerian Keuangan kembali menempatkan lagi dana SAL. “Posisi dana SAL di BTN sekarang ada Rp38 triliun. (Tambahan dana) BTN dapat sekitar Rp13 triliun,” ucap dia.

Meskipun demikian, Nixon mengatakan dana SAL tersebut tidak bersifat permanen. Sebagian dana akan ditarik kembali pada September sesuai skema evaluasi berkala yang telah ditetapkan pemerintah. “Nanti September ada porsi yang harus dikembalikan. Tapi sekarang jadwalnya sudah jelas sehingga kami bisa menyiapkan strateginya,” ujarnya.

BTN pun menargetkan cost of fund tetap berada di kisaran 3,1%-3,3% hingga akhir 2026. Untuk menjaga biaya dana tidak terus meningkat, perseroan memilih lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama pada segmen yang menawarkan margin rendah. “Hari ini kami tidak bisa menjual bunga kredit terlalu murah karena cost of fund naik. Jadi kami pilih segmen yang akan dimasuki. Program pemerintah tetap jalan, tetapi kredit korporasi yang bunganya terlalu rendah mulai kami kurangi,” kata Nixon.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, ketahanan likuiditas perbankan tetap terjaga untuk mendukung target intermediasi. Hal ini tercermin dari INDONIA, yang merupakan gambaran suku bunga antar bank, yang sempat mencapai 6,62% pada 18 Juni 2026 turun menjadi 6,17% pada 16 Juli 2026.

“Penurunan INDONIA mencerminkan berkurangnya tekanan permintaan likuiditas di pasar uang antarbank sehingga kebutuhan pendanaan jangka pendek dapat dipenuhi dengan biaya yang lebih rendah. Kondisi tersebut mengindikasikan likuiditas pasar uang yang tetap memadai,” kata Destry.

Kondisi ini dipengaruhi strategi ekspansi likuiditas oleh BI melalui berbagai instrumen moneter seperti repo, swap, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Per 16 Juli, ekspansi likuiditas BI melalui operasi moneter tercatat sebesar Rp837,11 triliun. Strategi ekspansi tersebut juga mendukung pertumbuhan uang primer (M0) yang terjaga double digit, yaitu 12,8% (yoy) pada akhir Juni 2026.

Diversifikasi

Tekanan likuiditas juga diperkirakan berdampak pada pertumbuhan kredit pada paruh kedua tahun ini. Nixon menilai ekspansi kredit tidak akan sekuat semester pertama seiring mahalnya biaya pendanaan di industri. “Pertumbuhan kredit saya rasa tidak seperti semester pertama karena likuiditas memang lebih ketat,” ujarnya.

Terkait dengan strategi menjaga likuiditas, pada semester II ini BTN memiliki rencana sekuritisasi aset dengan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) dan penerbitan obligasi yang akan dibeli oleh SMF. Untuk rencana sekuritisasi aset, nilainya sekitar Rp300-400 miliar, tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. “Kalau obligasi masih dibahas tapi saya minta obligasi untuk masuk sebagai tier 2 capital,” papar Nixon.

Fokus perseroan adalah mendorong peningkatan CASA, sebab BTN menilai ruang pendanaan masih akan menjadi tantangan pada semester II-2026. Oleh karena itu, perseroan terus meningkatkan dana murah dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber dana berbiaya tinggi agar memiliki kapasitas lebih besar untuk menyalurkan pembiayaan.

“Dengan peningkatan CASA dan penurunan ketergantungan pada dana mahal, struktur pendanaan BTN menjadi semakin sehat sehingga kami memiliki ruang lebih besar untuk terus mendukung pembiayaan perumahan sekaligus mengembangkan bisnis beyond mortgage,” ujarnya.

Secara terpisah, PT Bank Mandiri Taspen mengubah strategi penghimpunan dana di tengah likuiditas perbankan yang mulai mengetat akibat kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Setelah bertahun-tahun mengandalkan deposito untuk menopang pertumbuhan kredit, bank yang fokus pada segmen pensiunan ini kini mempercepat peningkatan CASA melalui giro, tabungan, dan pengembangan ekosistem korporasi.

Division Head Strategic Business Development Bank Mandiri Taspen Agus Syaiful Anwar mengatakan, selama 11 tahun terakhir pertumbuhan aset perseroan terutama ditopang ekspansi kredit yang agresif. Untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, bank saat itu memilih mengandalkan deposito karena dinilai menjadi sumber pendanaan yang paling cepat diperoleh. “Pertumbuhan kredit kami memang agresif. Konsekuensinya likuiditas harus dipenuhi, sehingga dulu strategi paling mudah adalah mendorong deposito melalui pricing,” ujar Agus.

Namun, seiring bisnis yang mulai matang, perseroan kini mengalihkan fokus untuk memperbesar porsi dana murah agar biaya dana lebih kompetitif. Selama satu dekade terakhir, rasio CASA Bank Mantap berada di kisaran 20-23%, dan kini ditargetkan meningkat hingga 30-40% dalam jangka menengah.

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga menilai mulai keringnya likuiditas terasa bagi perbankan. “Terasa (kering) bagi perbankan secara umum, yang pasti, cost of fund (biaya dana) menjadi mahal. Sehingga, tantangannya juga bagi kredit,” kata Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan kepada Investor Daily.

Untuk menyiasati tantangan likuiditas tersebut, selain tetap mendorong penghimpunan dana murah (current account saving account/CASA), CIMB Niaga juga melihat peluang apabila diperlukan menerbitkan surat utang, namun tetap mempertimbangkan biaya. “Kami selalu standby, tergantung dari permintaan kredit dan harga,” sambung Lani.