— Perum Bulog mengubah strategi intervensi pasar untuk menstabilkan harga beras premium. Skenario sebelumnya yang menggunakan beras medium (beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan/SPHP) dinilai tidak efektif menekan harga kelompok premium secara signifikan. Ke depannya, intervensi akan dilakukan dengan menggelontorkan beras jenis premium.

Langkah konkret yang akan diambil Bulog adalah meluncurkan Beras Kita Premium dengan volume 2 juta ton, sementara beras medium akan tetap disebut beras SPHP atau nantinya menjadi Beras Kita Medium. Perubahan ini merupakan respons terhadap kenaikan harga beras premium yang terus terjadi.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa tugas Bulog adalah menurunkan inflasi pangan, khususnya beras. Operasi pasar melalui penyaluran beras SPHP telah ditingkatkan dengan bantuan TNI-Polri, bahkan penjualannya meningkat rata-rata 130% dari target. Namun, kenaikan harga beras premium tidak serta-merta mereda.

“Setelah kami pelajari dan evaluasi dengan Bapak Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), dalam hal ini Bapak Menteri Pertanian, ini memang ada sedikit miss. Dengan beras medium untuk intervensi beras premium ternyata tidak bisa menurunkan harga beras premium secara signifikan,” ujar Ramdhani saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin (27/07/2026).

Ia menambahkan bahwa beras medium dan premium memiliki segmen pasar yang berbeda. Menggelontorkan beras medium dalam jumlah besar tidak akan serta-merta menurunkan harga beras premium. “Penyakitnya yang naik beras premium ya harus kita intervensi dengan beras premium yang sederajat dengan harga sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi),” jelasnya.

Menindaklanjuti hal tersebut, Menteri Pertanian/Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman memerintahkan Bulog untuk mengalihkan sekitar 2 juta ton stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menjadi beras premium untuk keperluan operasi pasar. “Sesuai perintah Pak Menteri Pertanian kemarin ke kami, ada suratnya resminya, untuk mengalihkan cadangan beras premium yang kami miliki 2 juta ton menjadi beras premium SPHP,” kata Ramdhani.

Bulog juga akan melakukan penataan ulang merek beras yang dikelolanya. Merek beras medium SPHP akan diubah menjadi Beras Kita Medium, sedangkan merek beras premium akan menjadi Beras Kita Premium. Perubahan ini diharapkan sejalan dengan strategi merek produk pangan lain seperti Minyakita dan Gula Manis Kita, serta memberikan tampilan yang lebih menarik.

Menurut Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono, rata-rata harga beras premium hingga minggu keempat Juli 2026 mencapai Rp16.322 per kilogram, naik 0,47% dari Juni 2026. Pola kenaikan harga ini serupa dengan beras medium.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa kenaikan harga beras dipengaruhi oleh peningkatan harga gabah di tingkat produsen. Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani berkisar antara Rp6.500 hingga Rp7.600 per kg, bahkan ada yang mencapai Rp7.700 per kg di beberapa daerah Jawa. Meskipun harga gabah yang baik menguntungkan petani, hal ini berdampak pada harga beras di tingkat penggilingan.

Berdasarkan pemantauan Bapanas di Jabodetabek pada 14-23 Juli 2026, pasokan beras masih aman. Harga beras SPHP Rp12.500 per kg, medium mulai Rp13.600 per kg, dan premium mulai Rp15.500 per kg. Kenaikan harga beras ini juga dipicu oleh peningkatan harga plastik kemasan dan harga gabah.

Untuk menstabilkan harga, pemerintah akan kembali menggelontorkan bantuan pangan beras (BPB) untuk Agustus 2026, selain terus mendistribusikan beras SPHP. Gerakan Pangan Murah (GPM) juga akan digencarkan, terutama di pasar-pasar yang tercatat BPS.

Selain itu, instrumen lain yang diusulkan untuk menstabilkan harga beras adalah distribusi BPB dengan skema Anggaran Belanja Tambahan (ABT). Menteri Keuangan telah menyetujui pembiayaan untuk satu bulan, dan diharapkan Bulog siap mendistribusikannya pada Agustus 2026.