Detak.news — Bursa saham Asia memulai perdagangan Selasa dengan tren melemah, di mana indeks Kospi Korea Selatan mencatat koreksi signifikan hampir 6%. Para pelaku pasar global kini menanti serangkaian agenda ekonomi penting yang akan dihelat pekan ini, termasuk rilis laporan keuangan dari sejumlah perusahaan teknologi raksasa di Amerika Serikat (AS) dan keputusan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Mengutip laporan dari CNBC, Selasa (28/7/2026), indeks Kospi Korea Selatan dilaporkan anjlok 5,93% tepat saat pembukaan. Di pasar Jepang, indeks Nikkei 225 mengalami penurunan 0,65%, sementara indeks Topix melemah 0,63%. Indeks acuan Australia, S&P/ASX 200, juga tidak luput dari pelemahan, tercatat terkoreksi 0,38%.
Kondisi serupa di bursa Asia terjadi setelah sesi perdagangan yang berfluktuasi di Wall Street. Indeks Dow Jones Industrial Average berhasil ditutup menguat lebih dari 260 poin atau sekitar 0,5%, melanjutkan penguatan untuk hari kedua. Indeks S&P 500 juga ditutup dengan kenaikan tipis, terbantu oleh penurunan harga minyak mentah pasca jeda pertempuran di Timur Tengah.
Namun, Nasdaq Composite bergerak berlawanan arah dengan mengalami penurunan 0,2%. Pelemahan yang terjadi pada saham-saham semikonduktor menjadi beban utama bagi indeks yang didominasi oleh saham-saham teknologi tersebut.
Sementara itu, pergerakan kontrak berjangka indeks saham AS pada Senin malam menunjukkan relatif terbatas. Dow Jones futures tercatat naik 24 poin atau 0,05%. Di sisi lain, S&P 500 futures mengalami penurunan 0,03%, sedangkan Nasdaq 100 futures melemah 0,2%.
Investor Menanti Kinerja Raksasa Teknologi AS
Ketidakpastian di pasar global meningkat seiring mendekatnya sejumlah agenda penting pekan ini. Perhatian utama investor tertuju pada laporan keuangan perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Meta Platforms, dan Microsoft. Apple juga dijadwalkan untuk merilis kinerja keuangannya dalam pekan ini.
Fokus pada perusahaan teknologi raksasa ini sangat penting karena prospek saham semikonduktor secara tidak langsung bergantung pada keberlanjutan belanja modal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan teknologi skala besar, yang dikenal sebagai *hyperscaler*.
Stephanie Link, Kepala Strategi Investasi di Hightower, mengungkapkan prediksinya bahwa perusahaan-perusahaan *hyperscaler* diperkirakan akan kembali meningkatkan belanja modal mereka. “Kita akan mendengar dari semua *hyperscaler* pekan ini yang akan kembali meningkatkan belanja modal. Jadi, saham-saham tersebut mungkin berada di bawah tekanan,” ujar Link kepada CNBC dalam program “Closing Bell” pada Senin.
Ia menambahkan, “Hal itu bagus selama *hyperscaler* terus berbelanja. Itu membantu perekonomian kita.”
Bursa Asia Menanti Keputusan The Fed
Selain menanti laporan keuangan dari emiten teknologi besar, pergerakan bursa Asia juga sangat dipengaruhi oleh keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan pada Rabu mendatang.
Mayoritas investor memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan bulan Juli ini. Namun, para pelaku pasar akan mencermati dengan seksama untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS di masa mendatang.
Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, pasar berjangka Fed Funds mengindikasikan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September.
Pada hari Selasa, pelaku pasar juga akan memantau rilis laporan kepercayaan konsumen AS. Dari sisi korporasi, perusahaan-perusahaan seperti Coca-Cola, UPS, Corning, dan Boeing dijadwalkan untuk mempublikasikan laporan keuangan kuartalan mereka sebelum perdagangan Wall Street dimulai.
Di samping agenda-agenda tersebut, investor akan terus mengamati pergerakan harga minyak mentah dan pasar obligasi.
Harga minyak mentah Brent dilaporkan berada di bawah level US$ 90 per barel, menyusul adanya jeda pertempuran antara AS dan Iran. Meredanya ketegangan geopolitik ini turut mengurangi kekhawatiran pasar mengenai potensi lonjakan harga energi.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun tercatat turun dan berada di kisaran 4,65%.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.