— JAKARTA – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), emiten Grup Sinar Mas, memberikan klarifikasi mendalam terkait transaksi senilai total Rp 12,5 triliun yang melibatkan akuisisi dan penambahan modal pada PT Bali Media Telekomunikasi (BMT). Penjelasan ini disampaikan sebagai respons atas permintaan klarifikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebelumnya, DSSA mengumumkan dua transaksi besar. Pertama, pada 1 Juli 2026, perseroan melalui dua anak usahanya, PT DSST Mas Gemilang dan PT Sinarmas Sukses Sejahtera, mengakuisisi 100% saham PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) senilai Rp 4 triliun. BMT merupakan perusahaan terafiliasi.

Selanjutnya, pada 8 Juli 2026, DSSA kembali mengumumkan suntikan modal ke BMT melalui anak usahanya, PT DSST Mas Gemilang. Modal tambahan ini diterbitkan dan diambil bagian sebanyak 8.539.999.121 saham BMT dengan nilai Rp 8,53 triliun. Dengan demikian, total dana yang dikeluarkan DSSA untuk kedua transaksi ini mencapai Rp 12,5 triliun.

PT Bali Media Telekomunikasi memiliki peran strategis karena memegang 24,57% saham PT XL Axiata Tbk (EXCL). Transaksi ini secara tidak langsung memberikan DSSA eksposur pada EXCL.

Transaksi akuisisi BMT ini dikategorikan sebagai transaksi afiliasi. Hal ini dikarenakan baik PT Bali Media Telekomunikasi maupun DSSA berada di bawah kendali Franky Oesman Widjaja, salah satu tokoh kunci di Grup Sinar Mas.

BEI sebelumnya meminta penjelasan terkait perbedaan harga per saham BMT dalam kedua transaksi. Pada transaksi akuisisi 1 Juli 2026, harga per saham BMT yang digunakan adalah sekitar Rp 357. Namun, pada transaksi penambahan modal 8 Juli 2026, harga per sahamnya adalah Rp 1.000.

Manajemen DSSA menjelaskan bahwa kedua transaksi tersebut merupakan peristiwa yang terpisah dan berbeda. Harga Rp 357 per saham yang digunakan dalam transaksi jual beli saham BMT pada 1 Juli lalu merupakan harga wajar saham BMT yang berlaku pada saat transaksi tersebut dilakukan.

Sementara itu, harga Rp 1.000 per saham untuk peningkatan modal, seperti yang tercantum dalam anggaran dasar BMT, digunakan karena transaksi ini dilakukan setelah DSSA menguasai lebih dari 99% saham BMT dan melakukan konsolidasi. “Peningkatan modal tersebut dilakukan setelah perseroan memiliki lebih dari 99% saham BMT dan melakukan konsolidasi atas BMT,” terang manajemen DSSA dalam keterbukaan informasi dikutip Kamis (23/7/2026).

BEI juga menyoroti mengenai tindak lanjut investasi dalam utang konversi kepada DSSA oleh BMT. Dalam surat tanggapan, DSSA hanya menjelaskan bahwa BMT belum menyelesaikan investasi tersebut saat transaksi afiliasi efektif. Namun, tanggapan mengenai langkah selanjutnya belum dirinci.

Menanggapi hal ini, manajemen DSSA menyatakan bahwa setelah transaksi afiliasi efektif, dan mempertimbangkan BMT sebagai entitas anak dengan kepemilikan lebih dari 99% serta kebutuhan BMT untuk fokus pada kegiatan usahanya, DSSA memutuskan untuk menyelesaikan investasi dalam utang konversi tersebut pada 6 Juli 2026. “Keputusan itu baru diambil setelah terjadinya transaksi. Dengan telah diselesaikannya investasi dalam utang konversi tersebut, DSSA tidak memiliki investasi dalam utang konversi dan BMT tidak memiliki utang konversi,” sebut manajemen DSSA.