Detak.news — JAKARTA – Harga emas global diprediksi akan kembali bergerak fluktuatif pada sepekan mendatang. Analis memperkirakan pergerakan ini akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen pasar yang kuat.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa faktor utama yang akan memengaruhi harga emas adalah isu geopolitik, dinamika politik di Amerika Serikat, serta kebijakan bank sentral AS. Ia memperkirakan harga emas bisa saja terkoreksi dengan level support pertama di US$ 3.970 per troy ounce. Jika pelemahan berlanjut, level support kedua berada di US$ 3.856 per troy ounce.
Namun, Ibrahim juga melihat potensi penguatan harga emas. Level resistance pertama diprediksi berada di US$ 4.063 per troy ounce, dan jika tren menguat berlanjut, resistance kedua bisa mencapai US$ 4.149 per troy ounce.
Faktor Pendorong Fluktuasi Emas
Ibrahim memaparkan beberapa faktor kunci yang mendorong fluktuasi harga emas dunia. Pertama adalah eskalasi ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah. Serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur Iran dan balasan serangan Iran terhadap pangkalan Amerika di Timur Tengah, serta blokade Laut Merah oleh Houthi Yaman, berpotensi meningkatkan harga minyak mentah. Kenaikan biaya transportasi dan logistik ini dapat memicu inflasi dan berdampak pada harga barang turunannya.
Faktor kedua berasal dari ranah politik Amerika Serikat. Pasca-perang, Kongres AS kembali melancarkan kritikan tajam terhadap Donald Trump. Menjelang pemilihan sela anggota DPR AS, kekhawatiran kekalahan Partai Republik dari Partai Demokrat menguat, terutama dengan isu perang yang mendorong inflasi tinggi, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan harga gasolin.
Ketiga, kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat menjadi sorotan. Penurunan indeks harga konsumen dan indeks harga produsen di AS menjadi catatan. Namun, dengan kembali memanasnya situasi perang, inflasi berpotensi meningkat. Hal ini dapat mendorong Bank Sentral AS untuk mempertahankan, bahkan menaikkan suku bunga acuannya. “Kalau inflasi tinggi, Bank Sentral bisa saja akan menaikkan lebih dari dua kali suku bunga dan ini akan berdampak terhadap penurunan harga emas dunia, maupun logam mulia,” ujar Ibrahim.
Peran Supply and Demand Emas
Terakhir, faktor supply and demand emas juga krusial. Bank Sentral Amerika Serikat terus meningkatkan cadangan emasnya, tercatat memiliki 244 ton pada kuartal I tahun 2026. Secara global, bank sentral mengalami peningkatan pembelian emas sebesar 17% dibandingkan kuartal sebelumnya pada periode yang sama. Pembelian emas oleh bank sentral ini lebih bertujuan sebagai strategi menjaga stabilitas cadangan devisa, bukan semata mencari keuntungan jangka pendek seperti investor ritel.
Ikuti Detak.news
