Detak.news — Harga emas dunia mengalami tekanan di awal pekan ini, terdesak oleh lonjakan harga minyak mentah dan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS). Kombinasi kedua faktor ini mendorong investor untuk beralih ke dolar AS, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia.
Pada perdagangan Senin (20/7/2026), harga emas spot tercatat turun 0,31% menjadi US$ 4.005,38 per ons troi. Level ini merupakan yang terendah dalam dua pekan terakhir, setelah sebelumnya harga emas juga melemah sekitar 2,5% sepanjang pekan lalu, menandai penurunan mingguan kedua berturut-turut.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga terpangkas 0,24% ke level US$ 4.009,22 per ons troi.
Menurut laporan Reuters, tekanan terhadap emas dipicu oleh kenaikan harga minyak Brent yang melonjak lebih dari 3,11%, menembus US$ 90 per barel. Kenaikan harga energi ini disebabkan oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menyusul serangan lanjutan yang dilancarkan AS terhadap Iran selama sembilan malam berturut-turut. Washington juga telah mengonfirmasi kematian dua personel militernya di Yordania.
Lonjakan harga energi ini menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya inflasi yang lebih tinggi. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan kembali menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga.
Suku Bunga Tinggi dan Dampaknya
Pejabat The Fed Cleveland, Beth Hammack, menjadi salah satu pejabat terbaru yang menyuarakan perlunya suku bunga yang lebih tinggi jika inflasi tetap bertahan. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa rapat The Fed berikutnya akan mengambil kebijakan yang lebih ketat.
Suku bunga yang lebih tinggi secara inheren meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk memegang emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung kalah menarik dibandingkan aset berbunga lainnya seperti obligasi atau dolar AS.
Di sisi lain, survei terbaru menunjukkan sentimen konsumen AS naik ke level tertinggi dalam lima bulan pada Juli. Namun, para analis memperkirakan perbaikan ini hanya bersifat sementara. Kenaikan harga bahan bakar akibat konflik Timur Tengah berpotensi kembali menekan daya beli masyarakat.
Data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) juga menunjukkan bahwa spekulan di pasar COMEX menambah posisi beli bersih emas sebanyak 4.294 kontrak menjadi 119.147 kontrak pada pekan yang berakhir 14 Juli.
Sementara itu, permintaan fisik emas dilaporkan masih relatif lemah. Diskon harga emas di India melebar ke level tertinggi dalam satu bulan terakhir akibat lesunya permintaan perhiasan dan harapan harga akan terus turun. Di China, premi emas relatif stabil seiring dengan masih lemahnya permintaan ritel.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 1,11% menjadi US$ 56,57 per ons. Sementara itu, platinum mengalami koreksi 0,32% ke level US$ 1.590,87 per ons, dan paladium terkoreksi 0,28% menjadi US$ 1.247,37 per ons.
Ikuti Detak.news
