Detak.news — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 53 poin atau 0,86% ke level 6.228 pada sesi pertama perdagangan Senin (20/7/2026). Penguatan ini ditopang oleh aksi beli investor asing yang kembali mengalir ke pasar saham domestik, meskipun sentimen global masih diwarnai oleh memanasnya konflik di Timur Tengah.
Pilarmas Investindo Sekuritas mengamati bahwa pergerakan bursa saham Asia cenderung bervariasi. Investor global masih mencermati eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi memperburuk inflasi global.
“Perselisihan AS dan Iran telah meluas hingga menyasar infrastruktur penting. Kondisi ini mendorong pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu, sehingga harga minyak melonjak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Senin (20/7/2026).
Pilarmas menjelaskan lebih lanjut bahwa kenaikan harga energi berpotensi mendorong bank-bank sentral untuk mempertahankan, atau bahkan memperketat, kebijakan moneter guna mengendalikan inflasi. Situasi ini menjadi salah satu faktor yang masih membayangi pergerakan pasar keuangan global.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan ekonomi China. Bank Sentral China (PBOC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pinjaman utama (Loan Prime Rate/LPR) di level 3% untuk tenor satu tahun dan 3,5% untuk tenor lima tahun.
Keputusan ini diambil setelah pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II-2026 dinilai lebih lemah dari ekspektasi pasar. Investor kini menantikan hasil pertemuan Politbiro China yang diperkirakan akan memberikan sinyal mengenai tambahan stimulus fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sentimen Dalam Negeri Pengaruhi IHSG
Di pasar domestik, Pilarmas menilai sentimen terhadap IHSG masih relatif positif. Salah satu penopang utama adalah kembalinya aliran dana asing ke pasar saham Indonesia. Berdasarkan data perdagangan akhir pekan lalu, investor asing mencatat net buy sebesar Rp725,11 miliar di pasar reguler.
“Meski masih terbatas, aksi beli tersebut menunjukkan investor asing mulai kembali memanfaatkan valuasi saham Indonesia yang dinilai menarik melalui strategi bargain hunting,” tulis Pilarmas.
Sentimen positif lainnya datang dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia. Survei ini menunjukkan Prompt Manufacturing Index (PMI) BI kuartal II-2026 berada di level 51,43%, menandakan sektor manufaktur masih dalam fase ekspansi.
Pada sesi pertama perdagangan, saham-saham yang mengalami penguatan tertinggi adalah OMRE, RISE, FWCT, SQMI, dan KOKA. Sementara itu, saham yang terkoreksi paling dalam meliputi JELI, PRDL, MAPB, ASMI, dan RBMS.
Pilarmas juga merekomendasikan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan level support di 2.930 dan resistance di 3.310.
Ikuti Detak.news
