— JPMorgan memproyeksikan fenomena El Nino yang terjadi saat ini berpotensi meningkat menjadi El Nino “Sangat Kuat” atau El Nino Super pada akhir tahun 2026 hingga 2027. Kondisi ini diperkirakan akan memberikan tekanan inflasi yang signifikan di pasar global, khususnya bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Menurut analisis para ahli strategi JPMorgan, negara berkembang seperti India, Indonesia, Brasil, dan Kolombia akan merasakan dampak terberat dari El Nino Super. Sementara itu, Taiwan dan Korea Selatan juga berisiko mengalami lonjakan harga pangan. Berbeda dengan negara maju seperti Eropa, di mana kenaikan harga energi diprediksi menjadi pendorong utama inflasi pangan, dampak langsung El Nino di sana dinilai lebih terbatas.

Meskipun demikian, JPMorgan mencatat bahwa kondisi global saat ini lebih siap menghadapi El Nino dibandingkan episode besar sebelumnya. Persediaan biji-bijian global masih memadai, stok beras di Asia relatif aman, dan inflasi pangan global masih berada di tingkat yang rendah. Namun, kombinasi El Nino Super dengan harga energi yang bertahan tinggi dalam jangka waktu lama berpotensi memicu kenaikan harga pangan yang lebih besar dan memperlebar kesenjangan tekanan inflasi antarnegara dan kawasan.

Probabilitas El Nino berkembang menjadi kategori “sangat kuat” atau “super” pada akhir tahun ini mencapai 81%. Peluang fenomena ini bertahan hingga tahun 2027 diperkirakan mencapai 97%. Jika terjadi, peristiwa ini akan menjadi salah satu episode El Nino terkuat dalam beberapa dekade terakhir, meningkatkan risiko gangguan pada produksi pangan global dan rantai pasoknya.

JPMorgan memperkirakan El Nino Super dapat mendorong inflasi pangan global sekitar 0,7 poin persentase pada puncaknya tahun depan. Dampak terbesar biasanya muncul empat hingga delapan bulan setelah guncangan cuaca terjadi. Risiko inflasi akan semakin besar jika El Nino Super terjadi bersamaan dengan lonjakan harga energi, misalnya akibat konflik di Iran yang dapat meningkatkan biaya solar, pupuk, dan kemasan pangan. Dalam skenario tersebut, dampak terhadap inflasi pangan global bisa mencapai hampir dua kali lipat, yaitu sekitar 1,3–1,5 poin persentase.

Para analis JPMorgan menyatakan, “Lonjakan inflasi pangan yang diakibatkannya menjadi tingkat tahunan sebesar 5% pada paruh pertama tahun 2027 akan menambah 0,6 poin persentase terhadap inflasi umum global, sehingga memperlambat penurunan inflasi yang diperkirakan terjadi tahun depan sebesar 0,3 poin persentase untuk setahun penuh.”