Detak.news — INGGRIS dan Jerman dilaporkan tengah menjalin kerja sama dalam proyek ambisius untuk mengembangkan rudal jelajah jarak jauh baru. Rudal ini dirancang dengan kemampuan untuk menjangkau sasaran sejauh 2.000 kilometer, dengan target operasional penuh pada tahun 2034. Informasi ini diungkapkan oleh harian Jerman, Die Welt, pada Selasa (21/7/2026).
Proyek pengembangan ini merupakan bagian dari inisiatif yang dikenal sebagai Deep Precision Strike (DPS), yang dipimpin oleh London dan Berlin. Inisiatif ini telah mendapatkan dukungan luas dari 10 negara Eropa lainnya yang menyatakan bergabung untuk menyokong pengembangan sistem rudal jarak jauh baru dengan jangkauan melebihi 1.930 km tersebut.
Strategi Pertahanan dan Pilihan Teknologi DPS
Pengembangan kemampuan DPS difokuskan pada peluncuran serangan presisi jarak tinggi. Langkah strategis ini disiapkan sebagai respons defensif, mengantisipasi potensi eskalasi atau konflik bersenjata di masa depan dengan Rusia. Meskipun rincian teknis proyek masih dirahasiakan, pengembangan ini disebut-sebut akan mengandalkan basis teknologi canggih Inggris, sementara Jerman memberikan dukungan pendanaan utama. Proses pengembangan awal dilaporkan berjalan sesuai rencana.
Saat ini, para insinyur pertahanan sedang mempertimbangkan dua konsep utama teknologi rudal tersebut. Konsep pertama adalah rudal jelajah yang mampu terbang sangat rendah (*ultra-low altitude*) untuk menghindari deteksi radar musuh. Konsep kedua adalah rudal hipersonik yang mampu melaju lebih dari lima kali kecepatan suara (Mach 5+).
Tanggapan Rusia dan Konteks Geopolitik
Di sisi lain, pemerintah Rusia secara konsisten membantah tuduhan merencanakan agresi terhadap negara-negara Barat. Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah wawancara dengan jurnalis AS Tucker Carlson, secara tegas menyatakan bahwa Rusia tidak memiliki niat maupun kepentingan untuk menyerang negara-negara anggota aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Menurut Putin, skenario serangan terhadap aliansi militer Barat tersebut dinilai tidak masuk akal.
Ketegangan geopolitik di Eropa meningkat signifikan sejak meletusnya konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina. Situasi ini mendorong negara-negara anggota NATO di Eropa untuk mengevaluasi kembali doktrin pertahanan dan ketergantungan militer mereka pada Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun, Eropa dinilai mengalami kekurangan kapabilitas serangan presisi jarak jauh (*long-range precision strike*) yang mandiri. Hal ini mendorong negara-negara kekuatan utama seperti Inggris, Jerman, dan Prancis untuk mengambil inisiatif memperkuat kemandirian industri pertahanan domestik. Melalui proyek Deep Precision Strike (DPS), negara-negara Eropa berupaya membangun daya gertak (*deterrence*) yang efektif guna menjaga stabilitas kawasan dan mengantisipasi perubahan peta ancaman keamanan global dalam jangka panjang.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.