Detak.news — Militer Iran telah menyiapkan berbagai skenario tempur untuk mengantisipasi potensi serangan Amerika Serikat (AS), termasuk kemungkinan invasi darat. Pernyataan ini disampaikan oleh seorang sumber militer Iran kepada media RIA Novosti.
Sumber tersebut menegaskan, angkatan bersenjata Iran telah merancang berbagai skenario untuk menghadapi setiap serangan baru dari AS, terutama jika Washington memutuskan untuk melancarkan invasi darat. Ia menambahkan bahwa setiap serangan balasan terhadap fasilitas nuklir maupun infrastruktur vital Iran akan direspons secara masif, melampaui kalkulasi militer AS.
Menurutnya, ancaman berulang dari Presiden AS Donald Trump justru memacu kesiapan operasional angkatan bersenjata Iran secara maksimal. Pihak Iran menegaskan bahwa pemerintah AS harus bertanggung jawab penuh atas seluruh konsekuensi dari meruncingnya eskalasi konflik ini.
Gempuran AS Memasuki Malam ke-12
Sementara itu, ketegangan di lapangan terus meningkat. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah meluncurkan gelombang serangan udara terbaru ke wilayah Iran untuk malam ke-12 secara berturut-turut. Serangan ini dimulai pada Rabu (22/7/2026) pukul 17.30 waktu AS atau Kamis (23/7/2026) pukul 04.30 WIB, atas perintah langsung dari Panglima Tertinggi.
CENTCOM menyatakan melalui akun resminya di platform X bahwa misi ini akan terus berlanjut demi memangkas kemampuan Iran dalam mengancam keselamatan pelaut sipil dan kapal-kapal komersial yang melintasi perairan kawasan. Rangkaian konfrontasi militer ini merupakan kelanjutan dari konflik terbuka yang pecah sejak akhir Februari 2026.
Meskipun Iran dan AS sempat menandatangani memorandum perdamaian pada pertengahan Juni 2026 untuk menghentikan pertikaian, gencatan senjata tersebut berakhir rapuh dan tidak bertahan lama. AS kembali melancarkan serangan udara setelah menuduh Iran mengganggu keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, titik perlintasan vital bagi pasokan minyak dunia.
Sebagai balasan, Iran menggempur pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah dan mengancam akan melumpuhkan infrastruktur ekonomi serta energi negara-negara sekutu AS. Pembatalan kesepakatan damai secara sepihak oleh AS kini membentangkan ancaman perang terbuka yang kian meluas di seluruh kawasan.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.