— JAKARTA – PT DCI Indonesia Tbk (DCII), emiten sektor teknologi yang masuk dalam portofolio Anthoni Salim, telah merilis laporan keuangan semester I-2026. Perusahaan yang didirikan oleh Otto Toto Sugiri ini mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan.

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, DCII membukukan omzet sebesar Rp 1,77 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat Rp 1,33 triliun.

Meskipun demikian, beban pokok pendapatan perusahaan juga mengalami kenaikan sebesar 50%, dari Rp 539,32 miliar menjadi Rp 813,72 miliar. Hal ini menyebabkan pertumbuhan laba bruto hanya mencapai 21%, dari Rp 794,79 miliar menjadi Rp 963,69 miliar.

Dalam laporan keuangan tersebut, DCII mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 732,53 miliar. Raihan ini merupakan peningkatan sebesar 18,7% jika dibandingkan dengan periode semester I-2025 yang sebesar Rp 616,94 miliar. Laba per saham turut menguat dari Rp 259 menjadi Rp 307 per 30 Juni 2026.

Direktur DCI Indonesia, Evelyn, menjelaskan bahwa total aset perseroan mengalami kenaikan sebesar 20,6%. Per 31 Desember 2025, aset DCII tercatat Rp 6,6 triliun, dan per 30 Juni 2026 telah mencapai Rp 8 triliun.

“Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kenaikan aset tetap untuk penyelesaian fit-out sisa kapasitas gedung pusat data JK6, pembangunan gedung pusat data baru guna memenuhi kapasitas terkontrak, dan pembelian cadangan lahan (landbank) baru untuk kebutuhan ekspansi perseroan ke depan,” jelas Evelyn.

Selain aset, liabilitas perseroan juga mengalami kenaikan sebesar 24,1% dari Rp 2,6 triliun pada akhir tahun 2025 menjadi Rp 3,3 triliun pada pertengahan tahun 2026. Menurut Evelyn, peningkatan ini didorong oleh kenaikan pinjaman jangka panjang yang digunakan untuk mendanai investasi belanja modal fit-out gedung pusat data JK6 serta pembangunan gedung pusat data baru.