Detak.news — NEW YORK – Senyum hangat dan keterbukaan menyambut siapa saja yang melangkahkan kaki di depan pintu Masjid Al-Hikmah, New York, Amerika Serikat. Tak peduli latar belakangnya, setiap orang diterima dengan tangan terbuka di bangunan yang menjadi simbol keramahan Islam dan wajah Indonesia di Negeri Paman Sam.
“Masjid ini terbuka untuk semua orang,” tutur seorang jemaah dengan penuh kepramahramahan saat mengajak masuk seorang pengunjung non-Muslim, sebelum menyajikannya hidangan hangat di ruang makan mini masjid.
Kehangatan tersebut kian terasa saat Imam Masjid Al-Hikmah, Rasul Amin, menyapa para tamu. Pria asal Sulawesi Selatan ini menjelaskan dengan penuh antusias mengenai peran masjid yang berlokasi di 48-01 31st Ave, Astoria, New York tersebut.
Dikelola oleh The Indonesian Muslim Community, Inc (IMCI), masjid berkapasitas sekitar 700 jemaah ini tidak hanya menjadi rumah bagi diaspora Indonesia, tetapi juga memayungi jemaah dari berbagai negara lain seperti Amerika Serikat, Pakistan, Bangladesh, hingga India.
Jejak Sejarah Masjid Indonesia Pertama di AS
Hampir 31 tahun sudah Masjid Al-Hikmah berdiri menjadi oase spiritual. Bangunan yang berawal dari bekas gudang ini dibeli oleh IMCI pada pertengahan 1990-an melalui penggalangan dana jemaah dan pengusaha Indonesia, di bawah kepemimpinan Prang Sakirman.
Sebelum memiliki bangunan permanen, kelompok pengajian diaspora Indonesia harus berpindah dari rumah ke rumah, hingga sempat meminjam gedung KJRI New York.
Setelah melalui renovasi besar-besaran, Masjid Al-Hikmah yang berarti “Masjid Kebijaksanaan” resmi berdiri pada 17 Agustus 1995, tepat saat peringatan 50 tahun Kemerdekaan Indonesia. Dua bulan kemudian, masjid ini mendapat dukungan dana hibah sebesar US$ 150.000 dari Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang diketuai presiden ke-2 RI Soeharto.
Agenda Keagamaan dan Sosial yang Padat
Masjid Al-Hikmah memiliki agenda keagamaan dan sosial yang padat. Selain pengajian rutin, youth programme, dan kegiatan Rabu Halaqah, setiap bulannya digelar bazar makanan khas Nusantara yang turut menjadi ajang pemersatu warga negara Indonesia (WNI) dari berbagai latar belakang agama.
Namun, salah satu program paling menonjol adalah interfaith atau dialog lintas agama yang diasuh oleh tokoh dan cendekiawan Muslim ternama, Imam Shamsi Ali. Kegiatan ini bisa berlangsung hingga tiga kali dalam sebulan.
“Dalam program interfaith, fokus kami adalah diskusi, berbagi pengetahuan, dan saling mendengar, bukan berdebat atau menyerang satu sama lain,” ungkap Rasul Amin.
Menangkal Islamofobia dengan Kehangatan
Kehadiran Masjid Al-Hikmah dengan narasi Islam yang sejuk menjadi krusial di tengah meningkatnya sentimen islamofobia di Amerika Serikat. Laporan Council on American-Islamic Relations (CAIR) mencatat terdapat 8.683 pengaduan terkait insiden islamofobia sepanjang 2025, rekor tertinggi sejak 1996.
Di tengah dinamika tersebut, pengurus Masjid Al-Hikmah dan komunitas Muslim Indonesia meyakini konsistensi dalam memamerkan kehangatan, persahabatan, dan keterbukaan adalah cara terbaik untuk menunjukkan wajah Islam yang damai dan menentramkan di tengah kemajemukan masyarakat Amerika.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.