Detak.news — JAKARTA – Penurunan harga emas internasional pada paruh pertama tahun 2026 turut memengaruhi laju permintaan di China, negara konsumen logam mulia terbesar di dunia. Meskipun demikian, permintaan emas grosir menunjukkan pemulihan seiring kesempatan pengisian stok yang lebih menguntungkan.
Kepala riset untuk China di World Gold Council (WGC), Ray Jia, menjelaskan bahwa pergerakan harga emas yang berfluktuasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan posisi investor dan biaya peluang. “Harga emas internasional dalam USD turun 8% pada semester pertama sementara harga emas dalam Ringgit anjlok 10%,” ungkapnya, mengutip Kitco News, Senin (19/7/2026).
Penguatan nilai tukar mata uang China terhadap dolar Amerika Serikat turut memperkuat tren pelemahan harga emas di pasar domestik. “Penguatan mata uang China terhadap dolar AS memperkuat pelemahan harga emas lokal,” beber Ray Jia.
Permintaan emas grosir di China menunjukkan kinerja positif pada bulan Juni 2026. Penarikan emas dari Shanghai Gold Exchange (SGE) meningkat 36% secara bulanan menjadi 87 ton. Pemulihan ini didorong oleh pengisian stok yang oportunistik di seluruh rantai pasokan seiring dengan penurunan harga emas.
“Investasi emas batangan dan koin yang masih sehat juga membantu, karena investor ritel membeli saat harga turun,” tambah Ray Jia. Namun, permintaan emas di tingkat grosir secara keseluruhan masih mendekati level terendah pada bulan Juni, terutama akibat melemahnya industri perhiasan.
Secara keseluruhan, permintaan grosir pada semester pertama 2026 tercatat menarik 598 ton emas dari SGE. Angka ini 12% lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya dan 27% di bawah rata-rata sepuluh tahun terakhir. “Melemahnya konsumsi emas perhiasan secara berkelanjutan membuat produsen dan pengecer berhati-hati dalam mengisi kembali stok, sehingga membebani permintaan emas grosir secara keseluruhan,” jelas Ray Jia.
Bank Sentral China Terus Borong Emas
Di tengah tren pelemahan harga emas, Bank Sentral China atau People’s Bank of China (PBOC) terus meningkatkan cadangan emasnya. PBOC tercatat melakukan pembelian sebanyak 15 ton emas pada bulan Juni, yang merupakan jumlah terbesar sejak Oktober 2023.
Peningkatan ini menandai 20 bulan berturut-turut bank sentral China menambah kepemilikan emas resminya, sebuah rekor kenaikan terpanjang yang pernah tercatat. “Kepemilikan emas resmi di China kini telah meningkat selama 20 bulan berturut-turut, rentetan kenaikan terpanjang yang pernah tercatat,” tulis Ray Jia.
Total cadangan emas China kini mencapai 2.346 ton, setara dengan 8% dari total aset valuta asing resminya. “Penambahan yang cukup besar pada bulan Juni meningkatkan total cadangan emas China menjadi 2.346 ton, 8% dari total aset valuta asing resmi,” ungkapnya.
Pembelian emas oleh bank sentral China diperkirakan akan berlanjut sepanjang paruh pertama 2026, terlepas dari fluktuasi harga emas. Hal ini diperkirakan akan mendorong peningkatan kepemilikan emas resmi sebesar 40 ton.
Ikuti Detak.news
