Detak.news — JAKARTA – Kalangan manajer investasi mempertahankan optimisme terhadap potensi kenaikan harga emas pada tahun 2027. Ian Samson, manajer portofolio multi-aset di Fidelity International, menyatakan rencananya untuk kembali meningkatkan bobot emas dalam portofolio.
“Kami memiliki rencana untuk kembali meningkatkan bobot emas. Pertanyaannya sekarang adalah kapan harus bertindak,” kata Samson, dikutip dari Kitco News, Senin (20/7/2026).
Meskipun harga emas sempat mengalami penurunan ke level US$ 4.000 per troy ounce, Samson menilai prospek positif jangka panjang untuk komoditas ini belum meredup. Fidelity sendiri sempat menurunkan posisi emas dari kelebihan bobot menjadi netral pada awal tahun 2026, sebelum tren kenaikan harga emas terhenti.
Harga emas mulai turun dari rekor tertinggi di sekitar US$ 5.600 per troy ounce. Penurunan ini semakin cepat sebulan kemudian ketika perang di Iran pecah. Namun, Fidelity tidak memperkirakan harga emas akan langsung kembali ke jalur kenaikan sebelumnya.
“Dari perspektif taktis, saat ini ada banyak hambatan dan juga dorongan. Saya memperkirakan harga emas akan sedikit lebih tinggi pada akhir tahun daripada sekarang,” beber Samson.
Fidelity memprediksi harga emas akan kembali memasuki pasar bullish pada tahun 2027. Dari perspektif teknis, Samson memprediksi harga emas untuk sementara akan bergerak di area US$ 4.000 per troy ounce, namun ia mencari sinyal kekuatan yang jelas.
Sinyal bullish moderat pertama yang dicari adalah rata-rata pergerakan harga emas dalam 50 hari, atau ketika harga emas kembali naik di atas US$ 4.300 per troy ounce. Dari segi fundamental, Samson merujuk pada permintaan bank sentral global yang terus mendukung harga emas dalam jangka menengah dan panjang.
“Jika Anda memiliki pembeli strategis struktural yang besar, hampir tidak dapat dihindari bahwa harga emas akan terdorong lebih tinggi,” ujarnya.
Ikuti Detak.news
