— Prospek lelang Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan tetap solid. Permintaan investor domestik diproyeksikan masih menjadi penopang utama, meskipun pasar tetap dibayangi dinamika kebijakan moneter, kondisi fiskal, serta sentimen global.

Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan bahwa keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% pada Juli 2026 mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar rupiah dan likuiditas domestik setelah kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin sejak Mei lalu.

“Inflasi yang masih berada dalam sasaran memang memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga. Namun tekanan dari pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak dunia, maupun suku bunga global tetap berpotensi mendorong pengetatan kebijakan melalui instrumen selain suku bunga acuan,” ujar Yusuf kepada Investor Daily, Minggu (26/7/2026).

Yusuf menjelaskan, dari sisi fiskal, tingginya kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) membuat pasokan surat utang pemerintah diperkirakan tetap besar. Kondisi tersebut menyebabkan investor masih mengharapkan premi risiko yang memadai.

Meski demikian, ia menilai permintaan domestik dari sektor perbankan, dana pensiun, dan perusahaan asuransi akan tetap menjadi penyangga utama pasar surat utang. Selain itu, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia serta mulai masuknya kembali dana asing ke pasar SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi katalis positif.

“Arus dana asing mulai kembali masuk ke SBN dan SRBI sehingga memberikan sentimen positif. Namun pergerakannya masih sangat sensitif terhadap penguatan dolar Amerika Serikat maupun kenaikan imbal hasil US Treasury,” katanya.

Menurut Yusuf, dengan nilai tukar rupiah yang masih bergerak di kisaran Rp 17.800-Rp 18.000 per dolar AS, volatilitas imbal hasil SBN diperkirakan tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum dimulainya siklus kenaikan suku bunga.

Yusuf optimistis lelang SBSN yang dijadwalkan pada 28 Juli 2026 dengan target indikatif Rp 10 triliun masih berpeluang mencatat penyerapan yang baik.

Menurut dia, sepanjang tahun ini minat investor terhadap lelang SBSN tetap kuat. Nilai penawaran bahkan umumnya mencapai dua hingga tiga kali target yang ditetapkan pemerintah. Selain didukung likuiditas hasil reinvestasi, tingkat imbal hasil yang telah berada di atas 7% juga dinilai masih menarik bagi investor.

“Hasil akhirnya tetap akan ditentukan oleh kondisi likuiditas di pasar uang dan seberapa agresif pemerintah menetapkan cut-off yield dalam lelang,” ujarnya.

Dari sisi strategi investasi, Yusuf memperkirakan investor masih akan memfokuskan minat pada seri obligasi bertenor pendek hingga menengah karena menawarkan risiko durasi yang lebih rendah di tengah ketidakpastian arah suku bunga.

Menurut dia, seri dengan tenor dua hingga lima tahun masih menjadi pilihan menarik karena memberikan keseimbangan antara tingkat imbal hasil dan likuiditas di pasar sekunder. Adapun obligasi bertenor lebih dari 10 tahun diperkirakan tetap diminati secara lebih selektif dengan tuntutan kompensasi imbal hasil yang lebih tinggi.