— JAKARTA – Meskipun suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dipertahankan pada level 5,75% sejak 21-22 Juli 2026, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) tetap pada strategi pemasarannya. Phintraco Sekuritas mencatat bahwa permintaan dari segmen hunian menengah atas hingga premium dinilai relatif stabil dibandingkan segmen lainnya.

Keputusan BI menahan suku bunga acuan bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global dan menahan inflasi pada sasaran 2.5±1%. Namun, Phintraco Sekuritas memperkirakan tingkat suku bunga yang tinggi berpotensi menekan daya beli segmen menengah, terutama karena sekitar 70% pembeli rumah ASRI pada kuartal I 2026 masih memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Menariknya, insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) tidak berlaku bagi hunian premium karena batas harga maksimal Rp 5 miliar. Hal ini membuat segmen hunian premium tidak terlalu bergantung pada stimulus fiskal tersebut. Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa ASRI telah meluncurkan produk hunian baru bernama RUMI @Cluster Aruna pada Juli 2026, dengan harga mulai dari Rp 4 miliar per unit, yang secara spesifik menargetkan segmen menengah atas.

Selain itu, portofolio hunian premium The Gramercy tetap dipertahankan dengan harga berkisar antara Rp 19 miliar hingga Rp 32 miliar per unit. ASRI menerapkan pendekatan penjualan yang selektif, hanya melepas dua hingga tiga unit per bulan untuk menjaga eksklusivitas produknya.

Phintraco Sekuritas menilai pasar segmen premium bersifat non-mass market, sehingga tidak sensitif terhadap fluktuasi suku bunga. Segmen ini dipandang sebagai penyangga alami di tengah tekanan biaya pendanaan yang masih tinggi. Saat ini, saham ASRI diperdagangkan pada Price to Book Value (PBV) 0,21 kali, yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata PBV subsektor Properties & Real Estate yang mencapai 0,98 kali. Rasio PBV sendiri membandingkan harga saham di pasar dengan nilai buku per sahamnya.

Di sisi lain, ASRI diperdagangkan pada Price to Earnings Ratio (PER) 32,87 kali, lebih tinggi dari PER subsektornya yang berada di angka 18,12 kali. Pada penutupan perdagangan Rabu (22/7/2026), saham ASRI ditutup pada level Rp 124, mengalami pelemahan sebesar 0,84%. Meskipun demikian, dalam sebulan terakhir, saham ASRI tercatat menguat 11,71%.