— Pemerintah China memberikan peringatan tegas bahwa mereka akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan jika Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan kecerdasan buatan (AI) miliknya. Ancaman sanksi ini dipicu oleh tuduhan AS mengenai penggunaan model AI buatan negara itu secara ilegal untuk melatih sistem AI China.

Kementerian Perdagangan China menyatakan kecaman keras terhadap klaim pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang menuduh perusahaan-perusahaan China mencuri kekayaan intelektual AS melalui teknik yang dikenal sebagai model distillation. Kementerian mendesak AS untuk menghentikan kampanye pencemaran nama baik dan ancaman sanksi yang dinilai tidak berdasar.

“Tindakan-tindakan ini tidak memiliki dasar faktual dan dukungan hukum, serta mencerminkan standar ganda dalam praktiknya. Ini adalah bentuk nyata dari hegemoni AI. China akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan sahnya,” tegas Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan resminya.

Polemik Teknik Distillation dan Tudingan Pengembang AS

Pernyataan keras dari otoritas China ini semakin memanaskan perselisihan seputar distillation, sebuah metode pelatihan model bahasa besar (large language model/LLM) dengan memanfaatkan luaran (outputs) dari model lain yang lebih canggih. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu menyatakan, pemerintah AS akan memeriksa secara ketat model-model AI asal China untuk mencari bukti pencurian kekayaan intelektual. Pernyataan ini memperkuat tuduhan dari raksasa AI AS seperti OpenAI dan Anthropic PBC, yang mengklaim pesaing mereka di China telah mengeksploitasi sistem AS demi mengembangkan model tandingan dengan biaya yang jauh lebih murah.

China Klaim Distillation sebagai Teknik Umum di Industri AI

Menanggapi tuduhan tersebut, Kementerian Perdagangan China menegaskan bahwa beberapa model AI domestik dirilis hampir bersamaan dengan model buatan AS dan telah mencapai kemampuan unggul di berbagai bidang, termasuk pemograman tingkat lanjut (front-end coding). Pemerintah China membela penggunaan distillation sebagai teknik yang umum dan luas digunakan di seluruh industri global. Bahkan, pemerintah China mengklaim banyak perusahaan AI milik AS yang juga memanfaatkan teknik distillation dari model buatan China, meski tanpa menyebutkan nama perusahaan atau melampirkan bukti spesifik.

Di akhir pernyataannya, pemerintah China menyerukan agar AS mengedepankan komunikasi dan dialog konstruktif terkait AI, memperjelas tata kelola teknologi, serta bersama-sama mendorong pengembangan AI secara global daripada menerapkan tindakan sepihak.

Dalam pengembangan kecerdasan buatan, model distillation (distilasi model) adalah teknik transfer pengetahuan di mana model AI yang lebih kecil dan efisien (siswa) dilatih menggunakan data atau respons yang dihasilkan oleh model AI yang jauh lebih besar dan kompleks (guru). Teknik ini memungkinkan pengembang menciptakan sistem AI yang andal dan responsif dengan biaya komputasi serta modal yang jauh lebih rendah ketimbang melatih model dari awal.

Isu distilasi menjadi inti dari persaingan geopolitik dan teknologi antara AS dan China. Bagi perusahaan AS yang telah menginvestasikan miliaran dolar untuk infrastruktur dan riset awal, seperti OpenAI dan Anthropic, penggunaan luaran model mereka oleh perusahaan China dianggap sebagai bentuk pemanfaatan tanpa izin atas kekayaan intelektual. Di sisi lain, bagi industri AI China, distilasi merupakan metode efisiensi yang standar dan sah dalam ilmu data. Ketergantungan pada teknik ini juga dipicu oleh pembatasan ekspor chip pemroses grafik (GPU) canggih dari AS ke China, sehingga pengembang China harus berinovasi agar dapat menghasilkan AI berperforma tinggi dengan sumber daya komputasi yang terbatas.