Detak.news — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan adanya peluang positif untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa opsi militer tetap siap dilanjutkan jika jalur diplomasi mengalami kebuntuan.
“Mereka ingin bertemu dan kami sedang menggelar pertemuan. Kita lihat saja apa yang terjadi nanti. Ada peluang bagus untuk mencapai kesepakatan,” ujar Trump sebagaimana dikutip Anadolu, Selasa (28/7/2026).
Trump mengklaim, langkah tegas dan tekanan kuat yang dilancarkan AS menjadi faktor utama yang mendorong Iran bersedia membuka ruang dialog. Ia menyebutkan, proses pembicaraan saat ini berjalan cukup lancar.
“Jika negosiasi gagal, kami akan kembali melancarkan aksi seperti dua hari lalu. Satu-satunya alasan mereka mengajak bertemu adalah karena tekanan intensif yang kami berikan,” tegasnya, tanpa merinci lebih lanjut bentuk tekanan tersebut.
Isu Intelijen dan Agenda Pertemuan Tingkat Tinggi
Dalam kesempatan yang sama, Trump menanggapi pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terkait dugaan Rusia yang membagikan data intelijen satelit kepada Iran. Trump mengaku akan meminta klarifikasi langsung kepada Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai isu tersebut.
Eskalasi di Timur Tengah ini juga menjadi agenda utama dalam pertemuan bilateral Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Selasa. Seorang pejabat pemerintah AS mengonfirmasi kedua pemimpin akan membahas dinamika konflik Iran, perkembangan Kerangka Kerja Trilateral di Lebanon, hingga potensi perluasan Perjanjian Abraham.
Selain Netanyahu, Trump juga dijadwalkan menggelar pertemuan terpisah dengan Presiden Zelensky guna membahas kelanjutan proses perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Ketegangan di Selat Hormuz
Sinyal diplomasi ini mengemuka di tengah tingginya tensi militer kedua negara. Sebelumnya, AS melancarkan serangan ke sejumlah titik di Iran sebagai balasan atas aksi Iran menembaki kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan menggempur fasilitas serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Meski aksi saling serang sempat ditangguhkan selama tiga hari terakhir, situasi di kawasan masih relatif rapuh. Padahal, AS dan Iran telah menandatangani perjanjian kerangka kerja yang dimediasi oleh Pakistan pada Juni 2026 demi menghentikan konfrontasi dan membuka jalan menuju perdamaian permanen.
Ketegangan antara AS dan Iran kembali memuncak sepanjang pertengahan 2026 menyusul serangkaian insiden keamanan di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dunia. Eskalasi militer yang melibatkan serangan balasan terhadap pangkalan AS di Teluk mengancam stabilitas pasokan energi global.
Upaya mediasi internasional, termasuk kesepakatan kerangka kerja yang difasilitasi Pakistan pada Juni 2026, menjadi tumpuan utama diplomasi untuk mencegah konflik bersenjata terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Ikuti Detak.news

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.