— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi I perdagangan Kamis (23/7/2026) dengan catatan positif, mencatatkan penguatan signifikan yang dipicu oleh keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan. Selain itu, optimisme yang berkembang di sektor industri kecerdasan buatan (AI) turut berkontribusi pada kenaikan pasar saham.

Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat melonjak 95,68 poin atau 1,51%, mencapai level 6.430. Penguatan ini terjadi di tengah pergerakan bursa saham Asia yang menunjukkan tren bervariasi atau mixed.

Pilarmas Investindo Sekuritas mengemukakan bahwa penguatan IHSG sangat dipengaruhi oleh keputusan BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026 yang mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%. Keputusan ini diambil setelah bank sentral sebelumnya melakukan penyesuaian kenaikan suku bunga acuan secara kumulatif sebanyak 100 basis poin sejak Mei 2026.

“Saat ini, bank sentral memilih untuk mengevaluasi dampak dari pengetatan kebijakan moneter yang telah diterapkan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, tingkat inflasi, serta pertumbuhan ekonomi,” terang Pilarmas dalam risetnya pada Kamis (23/7/2026).

BI menilai bahwa tingkat inflasi masih berada dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan. Kebijakan moneter yang telah dijalankan dianggap memadai untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Ke depannya, bank sentral akan terus memantau perkembangan global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). BI juga berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas rupiah dan menarik aliran modal asing.

Dari sisi eksternal, Pilarmas menambahkan bahwa sentimen pasar juga didukung oleh penguatan saham-saham di sektor semikonduktor. Hal ini terjadi setelah beberapa perusahaan teknologi raksasa di Amerika Serikat (AS) memberikan sinyal investasi berkelanjutan pada infrastruktur AI.

“Kondisi ini secara signifikan meningkatkan optimisme investor terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang bagi emiten yang bergerak di sektor kecerdasan buatan dan semikonduktor,” jelas Pilarmas.

Ketegangan Timur Tengah Menjadi Perhatian

Meskipun demikian, Pilarmas mengingatkan bahwa pelaku pasar masih menaruh perhatian pada meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Konflik yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan Iran dikhawatirkan dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang berujung pada kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dan potensi peningkatan inflasi global.

“Situasi tersebut berpotensi membuat suku bunga acuan tetap berada pada level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, dan ini dapat menjadi faktor pembatas bagi penguatan pasar saham,” tambah Pilarmas.

Kompleksitas konflik semakin terlihat dengan klaim kelompok Houthi yang didukung Iran telah menargetkan dua kapal tanker milik Arab Saudi di Laut Merah. Insiden ini terjadi di tengah serangan balasan yang terus dilancarkan kedua negara, sementara peluang untuk mencapai perundingan damai dinilai semakin menipis.

Pada sesi pertama perdagangan, saham-saham yang menunjukkan kenaikan terbesar meliputi MLPT, ZATA, ENAK, MPRO, dan MDIA. Sebaliknya, saham-saham yang mengalami pelemahan terdalam adalah SWID, KREN, FORU, BMSR, dan MORE.

Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan untuk melakukan pembelian (buy) pada saham DSSA. “Secara teknikal, saham DSSA memiliki area support di level 880 dan area resistance di level 1.080,” tutup Pilarmas.